Kadang-kadang saya berpikir bahwa
saya adalah survivor, saya pintar “nge-les”,
dalam arti memberi les kepada anak-anak sekolah yang jelas-jelas membuat dompet
saya “survive” dan atau mengelak dari sesuatu dengan cara terkonyol,
juga karena saya pintar memparodikan kegetiran hidup, well saya rasa.
Semoga tulisan saya ini tidak dibaca oleh murid-murid saya atau klien yang
memakai jasa saya selama ini. Bisa bubar
mata pencaharian saya kalau sampai ada “mosi tidak percaya” dari mereka
gara-gara saya unggah tulisan ini.
Pertama saya cukup yakin
murid-murid les yang mayoritas anak-anak
belum bisa log on ke kompasiana, yang kedua ada hikmahnya juga loh saya
gagal up load foto diri saya di kompasiana karena ke-gobtek-an saya (Guoblok tehnologi), Anggraeni Kumalasari bisa siapa
saja tanpa wajah, tapi sueeer loh saya pakai nama asli.
Akar budaya saya adalah Jawa, Jawa deles, yang kata orang medhoknya
nggak ketulungan sampai-sampai waktu saya remaja dulu jadi bahan ledekan di kampus
karena mencoba nge blend ikut-ikutan
loe gua. Sobit saya yang orang sumatera meyakinkan saya untuk berhenti aja
berusaha meng elo gua kan diri,” nggak pantes Ang” katanya waktu itu. Ya udah
kembali ke selera asal ke “kamu saya” dan saya toh memang lebih nyaman nggak
maksain diri ngomong guwa guwa lagi.
Saya bersyukur karena anomaly
nasib saya yang jawa deles dan anak
gunung ini punya kesempatan bisa belajar di luar negeri, meskipun kadang-kadang
dirantau justru sayalah yang jadi anomaly , he he.
Ketika
saya di luar negeri (ini
salah duanya, dari berjuta-juta)
Minggu-minggu pertama adalah masa
adaptasi yang paling berat bagi saya, meskipun saya membekali diri dengan
kemampuan berbahasa Inggris yang cukup memadahi ternyata berkomunikasi dengan
penutur asli menimbulkan banyak kesalah
pahaman. Ini terjadi ketika suatu siang saya berbelanja di sebuah supermarket,
setelah berbelanja beberapa kebutuhan pokok saya menghampiri gerai makanan yang
menjual beraneka makanan siap saji, timbang sana timbang sini akhirnya pilihan
saya jatuh ke sebuah makanan yang bentuknya mirip pastel tapi dengan ukuran
yang cukup Jurasic atawa lumayan gedhe, disitu tertulis “chicken pie” maka saya dengan PD nya bilang ke penjaga “wan ciken
pi plis” sejenak sang pelayan mengernyitkan dahi seperti berpikir keras, lho
kok nggak ngerti ??? pikir saya, maka saya ulang sekali lagi “ wan ciken pi
plis” sambil ber body language
menunjuk makanan yang saya maksud. “aaahhhh ai si ” kata si bule nyengir. Selesai membungkus sambil
mengedik dan tentu saja tetap nyengir doski bilang “hop yu enjoy yor ciken pi!”.
Sepanjang kaki melangkah saya
mengevalusai diri, kenapa eh kenapa???
Sampai akhirnya saya menyadari sesaat kemudian bahwa seharusnya saya bilang
“pai” bukan “pi”, karena “pi” (pee)
itu kan kencing, so tadi saya pesan
kencing ayam,yuck………………
Saya tidak terbiasa dengan toilet
kering, rasanya tersiksa sekali harus membersihkan diri dengan “ tissue paper”, maka saya menyiasatinya dengan membawa botol air mineral bekas yang
akan saya isi dengan air keran. Masalah mulai timbul karena toilet kampus
selalu penuh sesak setiap lunch time,
dan beberapa class mate saya mulai ngeh
setiap saya mengisi ulang botol saya. Mungkin karena saking penasarannya, Mika
Oi, teman jepang saya akhirnya bertanya juga, karena saat itu restroom penuh sesak nggak mungkin saya
menjelaskan alasan saya, maka saya bilang saja kalau saya selalu kehausan kalau
berada di toilet, ngeles lagi kan ???!!!!. Beberapa gadis menginspeksi saya
dari ujung kepala sampai ke bawah dengan dengan pandangan mata menyelidik. Dan
saya dengar dari teman dekat saya mulai hari itu mereka memberikan nickname buat saya “miss dripping” karena mereka benar-benar mengira bahwa saya adalah mahluk
yang : dari kerongkongan turun ke…………………………….laut aje kali yeeee.
Sesampai
di Negeri Sendiri
Beberapa lama, luaaaama banget,
setelah ilmu yang saya dapat mengendap, berkarat dan hampir hilang lagi karena
saya menikah, mengandung, melahirkan anak, merawat and so on…and so on ,
akhirnya saya putuskan untuk menjadi pengajar paruh waktu di sebuah lembaga,
dalam prosesnya tanpa kecuali semua calon pengajar diharuskan menjalani training di kantor pusat Jakarta. Suatu
ketika dalam diskusi kelompok ketika saya didapuk jadi moderator saya
menyimpulkan beberapa hal yang diawali dengan , “LHA yes, bla
bla bla” dan semua peserta jadi gerrr. Beberapa komentar langsung
berseliweran di udara, dan saya ngeles, maklum ibu-ibu, sudah rusty ……………(ngeles lagi).
Suatu hari saya mengajar murid
murid level sekolah dasar untuk mengenal makanan kesukaan, dalam proses
belajarnya kami duduk melingkar di karpet dan saya meletakkan beberapa gambar
buah, sayuran serta makanan yang beraneka rupa. Kelas mulai ramai dengan
diskusi dan celoteh anak-anak, saya mengintruksikan mereka untuk mengidentifikasikan
beberapa makanan yang mereka suka. Tiba-tiba murid saya yang super pintar
bernama Jesica bertanya kepada saya sambil menunjukan gambar paprika, saya blank pada saat itu,
untuk sesaat saya lupa namanya, ehhh dasar
kebiasan, jawa deles saya kumat lagi dan saya bilang “ that’s nganu”, sejurus kemudian sebelum saya
bisa mengkondisikan kekacauan yang saya
ciptakan, Jesica dengan yakinnya menjelaskan pada kelompok kecilnya “ this is
nganu” dan beberapa mulut kecil bergumam ohh nganu, nganu, karena mereka yakin
benda tersebut adalah nganu, beberapa
detik kemudian tiba-tiba kilasan di otak
saya membisikkan kata CAPSICUM, “no Jess, I meant capsicum not nganu”. “So
what ‘s nganu , miss ???”
“Forget
it dear, sorry I am not British enough
to be your role model” (dalam hati)
So mas,
mbak, bapak dan ibu sekalian “ don’t be
NGANU, YA!!!!” maksudnya jangan
menghina saya , ……………………………Hiks.
Kangen sama nganunya Ms. Anggra hihihihihi
BalasHapus