Rabu, 22 Januari 2014

Sorry , I am not your role model



Kadang-kadang saya berpikir bahwa saya adalah survivor, saya pintar “nge-les”, dalam arti memberi les kepada anak-anak sekolah yang jelas-jelas membuat dompet saya “survive” dan  atau mengelak dari sesuatu dengan cara terkonyol, juga karena saya pintar memparodikan kegetiran hidup, well saya rasa.
Semoga tulisan saya ini tidak  dibaca oleh murid-murid saya atau klien yang memakai jasa  saya selama ini. Bisa bubar mata pencaharian saya kalau sampai ada “mosi tidak percaya” dari mereka gara-gara saya unggah tulisan ini.
Pertama saya cukup yakin murid-murid les yang mayoritas anak-anak  belum bisa log on ke kompasiana, yang kedua ada hikmahnya juga loh saya gagal up load foto diri saya di kompasiana karena ke-gobtek-an saya (Guoblok tehnologi), Anggraeni Kumalasari bisa siapa saja tanpa wajah, tapi sueeer loh saya pakai nama asli.
Akar budaya saya adalah Jawa, Jawa deles, yang kata orang medhoknya nggak ketulungan sampai-sampai waktu saya remaja dulu jadi bahan ledekan di kampus karena mencoba nge blend ikut-ikutan loe gua. Sobit saya yang orang sumatera meyakinkan saya untuk berhenti aja berusaha meng elo gua kan diri,” nggak pantes Ang” katanya waktu itu. Ya udah kembali ke selera asal ke “kamu saya” dan saya toh memang lebih nyaman nggak maksain diri ngomong guwa guwa lagi.
Saya bersyukur karena anomaly nasib saya yang jawa deles dan anak gunung ini punya kesempatan bisa belajar di luar negeri, meskipun kadang-kadang dirantau justru sayalah yang jadi anomaly , he he.
Ketika saya di luar negeri (ini salah duanya, dari berjuta-juta)
Minggu-minggu pertama adalah masa adaptasi yang paling berat bagi saya, meskipun saya membekali diri dengan kemampuan berbahasa Inggris yang cukup memadahi ternyata berkomunikasi dengan penutur asli  menimbulkan banyak kesalah pahaman. Ini terjadi ketika suatu siang saya berbelanja di sebuah supermarket, setelah berbelanja beberapa kebutuhan pokok saya menghampiri gerai makanan yang menjual beraneka makanan siap saji, timbang sana timbang sini akhirnya pilihan saya jatuh ke sebuah makanan yang bentuknya mirip pastel tapi dengan ukuran yang cukup Jurasic atawa lumayan gedhe, disitu tertulis “chicken pie” maka saya dengan PD nya bilang ke penjaga “wan ciken pi plis” sejenak sang pelayan mengernyitkan dahi seperti berpikir keras, lho kok nggak ngerti ??? pikir saya, maka saya ulang sekali lagi “ wan ciken pi plis” sambil ber body language menunjuk makanan yang saya maksud. “aaahhhh ai si ” kata  si bule nyengir. Selesai membungkus sambil mengedik dan tentu saja tetap nyengir doski bilang “hop yu enjoy yor ciken pi!”. Sepanjang kaki melangkah  saya mengevalusai diri, kenapa eh  kenapa??? Sampai akhirnya saya menyadari sesaat kemudian bahwa seharusnya saya bilang “pai” bukan “pi”, karena “pi” (pee) itu kan kencing, so tadi saya pesan kencing ayam,yuck………………
Saya tidak terbiasa dengan toilet kering, rasanya tersiksa sekali harus membersihkan diri dengan “ tissue paper”, maka saya menyiasatinya  dengan membawa botol air mineral bekas yang akan saya isi dengan air keran. Masalah mulai timbul karena toilet kampus selalu penuh sesak setiap lunch time, dan beberapa class mate saya mulai ngeh setiap saya mengisi ulang botol saya. Mungkin karena saking penasarannya, Mika Oi, teman jepang saya akhirnya bertanya juga, karena saat itu restroom penuh sesak nggak mungkin saya menjelaskan alasan saya, maka saya bilang saja kalau saya selalu kehausan kalau berada di toilet, ngeles lagi kan ???!!!!. Beberapa gadis menginspeksi saya dari ujung kepala sampai ke bawah dengan dengan pandangan mata menyelidik. Dan saya dengar dari teman dekat saya mulai hari itu mereka memberikan nickname buat saya “miss dripping” karena mereka benar-benar mengira bahwa saya adalah mahluk yang : dari kerongkongan turun ke…………………………….laut aje kali yeeee.

Sesampai di Negeri Sendiri
Beberapa lama, luaaaama banget, setelah ilmu yang saya dapat mengendap, berkarat dan hampir hilang lagi karena saya menikah, mengandung, melahirkan anak, merawat and so on…and so on , akhirnya saya putuskan untuk menjadi pengajar paruh waktu di sebuah lembaga, dalam prosesnya tanpa kecuali semua calon pengajar diharuskan menjalani training di kantor pusat Jakarta. Suatu ketika dalam diskusi kelompok ketika saya didapuk jadi moderator saya menyimpulkan beberapa hal yang diawali dengan , “LHA  yes, bla bla bla” dan semua peserta jadi gerrr. Beberapa komentar langsung berseliweran di udara, dan saya ngeles, maklum ibu-ibu, sudah rusty ……………(ngeles lagi).
Suatu hari saya mengajar murid murid level sekolah dasar untuk mengenal makanan kesukaan, dalam proses belajarnya kami duduk melingkar di karpet dan saya meletakkan beberapa gambar buah, sayuran serta makanan yang beraneka rupa. Kelas mulai ramai dengan diskusi dan celoteh anak-anak, saya mengintruksikan mereka untuk mengidentifikasikan beberapa makanan yang mereka suka. Tiba-tiba murid saya yang super pintar bernama Jesica bertanya kepada saya sambil menunjukan  gambar paprika, saya blank pada saat itu,
 untuk sesaat saya lupa namanya, ehhh dasar kebiasan, jawa deles saya kumat lagi dan saya bilang “ that’s nganu”, sejurus kemudian sebelum saya bisa  mengkondisikan kekacauan yang saya ciptakan, Jesica dengan yakinnya menjelaskan pada kelompok kecilnya “ this is nganu” dan beberapa mulut kecil bergumam ohh nganu, nganu, karena mereka yakin benda tersebut  adalah nganu, beberapa detik  kemudian tiba-tiba kilasan di otak saya  membisikkan kata CAPSICUM, “no Jess, I meant capsicum not nganu”. “So what ‘s nganu , miss ???”
“Forget it dear, sorry I am not British  enough to be your role model” (dalam hati)
So mas, mbak, bapak dan ibu sekalian “ don’t be NGANU, YA!!!!”  maksudnya jangan menghina saya , ……………………………Hiks.

1 komentar: