Rabu, 29 Januari 2014

Candu Galau



Banyak diantara kita  terlibat dalam suatu masalah yang seharusnya bisa diselesaikan, tetapi malah menjadi berlarut-larut tanpa penyelesaian. Why ? Kenapa eh kenapa ? bisa merusak pikiran…..lho kok jadi ingat  bang Haji.
Karena eh karena ….waaalah ! Hal ini berkaitan dengan ketidak mampuan kita mengidentifikasi masalah untuk kemudian mengeliminasinya. Ribet banget neh bahasanya. Intinya gini deh kalau kita sedang kesandung suatu masalah  ( kita ?  elo kali) seharusnya segera sadar  masalahnya dimana ?
Bisa jadi masalahnya ada pada keadaan, orang lain dan tidak menutup kemungkinan ada pada diri kita sendiri, sampai kita harus ikhlas nggak ikhlas menghadapi masalah yang sedang terjadi.
Ada beberapa style seseorang dalam menghadapinya, ada gaya pengingkaran , gaya hibernasi yaitu yang pura-pura mati suri nggak ngerasa kalau punya masalah, ada yang gaya lari dari kenyataan (sepertinya bahas di postingan lain aja ah) dan yang paling alay adalah gaya galau.
Kata galau sendiri baru banyak dipakai orang dalam masa kejayaan sosmed beberapa tahun terakhir ini. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Karangan W.J.S Poerwadarminta, kata galau ini hanya dijelaskan dalam uraian singkat , Galau : Kacau (tt pikiran).
Sedangkan menurut konco bule sang kamus, yaitu dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary padanan kata galau kira-kira kalau tidak salah adalah Uncertain.
Uncertain : 1.feeling doubt about ; not knowing something definitely…….etc…….4. likely to vary; tending to change frequently , 5. Not confident,…………………bla…..bla….bla.
Nggak perlu diterjemahkan ngerti dong ???? Nah perasaan tidak pasti, sering berubah-ubah dalam menghadapi sebuah permasalah inilah yang disebut galau.  Dalam keseharian  saya sering sekali berinteraksi  dengan para pelaku galau tingkat dewa. Dalam menghadapi para galauer ini rasanya sekali dua kali mendengar curhatan untuk kemudian tergopoh-gopoh mencarikan solusi, cukuplah. Tapi apabila semua saran dan solusi yang sudah kita coba tawarkan tidak dijalankan dan kembali curhat masalah yang sama dengan bumbu yang berbeda dari hari ke hari  yah itu namanya ngebosenin.
Buat para galauer semacam ini saya nggak habis pikir, tersiksa kok  menikmati, c’mon manusia ketika lahir sudah diinstal berikut akal dan budi, yang mana bila kita kesampingkan keruwetan perasaan kita sesunguhnya kita tidak terlalu membutuhkan saran orang lain, wong bener salah itu gamblang, nggak abu-abu, kita tahu apa langkah rasional yang harus kita tempuh berikut konsekuensinya. Pendapat orang hanya menguatkan keputusan kita. Ehh ini malah bolak-balik, sudah bolak balik lagi.
Tapi ya, namanya sudah kecanduan, bawaannya nagih pengen galau terus-terusan. Kalau sudah nemu yang kayak gini nih, bermanis-manis atau ngemong roso, adalah tindakan yang justru menjerumuskan si pecandu.
Hal yang perlu kita lakukan tidak lain tidak bukan adalah jurus pamungkas , “jurus sapu ngantuk”biar tuh orang yang lagi galau kita melek kan (baca: sadarkan) dengan yang pedes-pedes tapi bukan dengan bakso uleg atau rujak aceh,  kali ini sadarkannya dengan kata-kata super pedes…………….mak jleb. Biar  tuh matanya melek lihat realita. Kalau masih belum move on juga ????
I am Sorry Good Bye , deh. Nggak buka konsultasi gratis, STOP RIGHT NOW, CASE CLOSE  !!!!!
Karena kalau kita juga ikut muter-muter di permasalahan yang itu-itu juga, kita dong ikutan ketagihan candu galau.
Jadinya bareng deh nyanyi lagunya Syahrindul : aku galau…..aku kacau……aku cemburu……wes lah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar