Banyak diantara kita terlibat dalam suatu masalah yang seharusnya
bisa diselesaikan, tetapi malah menjadi berlarut-larut tanpa penyelesaian. Why
? Kenapa eh kenapa ? bisa merusak pikiran…..lho kok jadi ingat bang Haji.
Karena eh karena ….waaalah ! Hal ini berkaitan dengan
ketidak mampuan kita mengidentifikasi masalah untuk kemudian mengeliminasinya.
Ribet banget neh bahasanya. Intinya gini deh kalau kita sedang kesandung suatu
masalah ( kita ? elo kali) seharusnya segera sadar masalahnya dimana ?
Bisa jadi masalahnya ada pada keadaan, orang lain dan tidak
menutup kemungkinan ada pada diri kita sendiri, sampai kita harus ikhlas nggak
ikhlas menghadapi masalah yang sedang terjadi.
Ada beberapa style seseorang dalam menghadapinya, ada gaya
pengingkaran , gaya hibernasi yaitu yang pura-pura mati suri nggak ngerasa
kalau punya masalah, ada yang gaya lari dari kenyataan (sepertinya bahas di
postingan lain aja ah) dan yang paling alay adalah gaya galau.
Kata galau sendiri baru banyak dipakai orang dalam masa
kejayaan sosmed beberapa tahun terakhir ini. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia
Edisi Ketiga Karangan W.J.S Poerwadarminta, kata galau ini hanya dijelaskan
dalam uraian singkat , Galau : Kacau (tt pikiran).
Sedangkan menurut konco bule sang kamus, yaitu dalam Oxford
Advanced Learner’s Dictionary padanan kata galau kira-kira kalau tidak salah
adalah Uncertain.
Uncertain : 1.feeling doubt about ; not knowing something
definitely…….etc…….4. likely to vary; tending to change frequently , 5. Not confident,…………………bla…..bla….bla.
Nggak perlu diterjemahkan ngerti dong ???? Nah perasaan
tidak pasti, sering berubah-ubah dalam menghadapi sebuah permasalah inilah yang
disebut galau. Dalam keseharian saya sering sekali berinteraksi dengan para pelaku galau tingkat dewa. Dalam menghadapi
para galauer ini rasanya sekali dua kali mendengar curhatan untuk kemudian
tergopoh-gopoh mencarikan solusi, cukuplah. Tapi apabila semua saran dan solusi
yang sudah kita coba tawarkan tidak dijalankan dan kembali curhat masalah yang
sama dengan bumbu yang berbeda dari hari ke hari yah itu namanya ngebosenin.
Buat para galauer semacam ini saya nggak habis pikir,
tersiksa kok menikmati, c’mon manusia
ketika lahir sudah diinstal berikut akal dan budi, yang mana bila kita
kesampingkan keruwetan perasaan kita sesunguhnya kita tidak terlalu membutuhkan
saran orang lain, wong bener salah itu gamblang, nggak abu-abu, kita tahu apa
langkah rasional yang harus kita tempuh berikut konsekuensinya. Pendapat orang
hanya menguatkan keputusan kita. Ehh ini malah bolak-balik, sudah bolak balik
lagi.
Tapi ya, namanya sudah kecanduan, bawaannya nagih pengen galau
terus-terusan. Kalau sudah nemu yang kayak gini nih, bermanis-manis atau ngemong roso, adalah tindakan yang
justru menjerumuskan si pecandu.
Hal yang perlu kita lakukan tidak lain tidak bukan adalah
jurus pamungkas , “jurus sapu ngantuk”biar tuh orang yang lagi galau kita melek
kan (baca: sadarkan) dengan yang pedes-pedes tapi bukan dengan bakso uleg atau
rujak aceh, kali ini sadarkannya dengan
kata-kata super pedes…………….mak jleb. Biar
tuh matanya melek lihat realita. Kalau masih belum move on juga ????
I am Sorry Good Bye , deh. Nggak buka konsultasi gratis,
STOP RIGHT NOW, CASE CLOSE !!!!!
Karena kalau kita juga ikut muter-muter di permasalahan yang
itu-itu juga, kita dong ikutan ketagihan candu galau.
Jadinya bareng deh nyanyi lagunya Syahrindul : aku galau…..aku
kacau……aku cemburu……wes lah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar