“Waktumu cuma sepuluh
menit, ingat sepuluh menit”
“ Inggih bu”
Kutemui Eddy di teras depan dengan perasaan enggan, mana
bisa mengerjakan semua tugas kimia ini hanya dalam waktu sepuluh menit? Batinku
berkeluh kesah.
“Ed kita bagi aja
tugasnya, besok kita bahas pagi-pagi di sekolah”
Selalu saja berakhir seperti itu, penuh prejudice dan
ketidak adilan, toh aku cuma berteman dengannya, apakah hanya karena namanya EDDY HO, atau karena kulitnya yang
putih dan matanya yang sipit?
“Bu, mbak sekar tahun
depan juga bakal menikah sama mas Fuad yang keturunan arab. Apa salahnya aku
berteman sama Eddy Ho?”
“Jelas salah, ndak
boleh”.
“Coba jelaskan dimana
salahnya?”
“Yang jelas beda, nggak penting salahnya dimana!!!”
“Apanya yang beda ?”
“Banyak.Titik!!!”
*****
Mbak Sekar selalu saja gatal berkomentar.
“Salahmu sendiri Ris
kalau Bapak Ibu bersikap begitu, apa tidak bisa kamu bergaul dengan teman lain
selain dia, tugas kelompok, pulang, pergi sekolah, jangan-jangan kalian juga
mulai bolos berdua”
“ Bukan aku yang mau
mbak, kalau kami selalu kebagian jadi satu kelompok, toh rumah kita berdekatan ,
nggak aneh juga kalau kami sama-sama ke
sekolah, emangnya aku harus nyamperin si Diana, itu namanya konyol beda komplek, jauh pisan”.
“Kamu bisa nyamperin
Hari, bisa juga sama Mawar, dasar aja kamu yang mau”
“Sudahlah mbak aku
banyak tugas”
“Tapi memang kamu suka
kan????”
Mukaku memerah.
YA!
Aku sepertinya mulai suka dia.
*****
Matanya yang kecil selalu berbinar terang, belum pernah aku
melihat bola mata sehitam itu, berkerlap-kerlip seperti bintang gemintang. Aku
juga suka tawanya, barisan giginya yang rapi selalu menyeringai lepas tanpa
beban secerah “Matahari bulan Juli”.
Tapi aku tak pernah bisa nikmati keduanya secara bersamaan. Bila aku bisa
melihat gemintang dimatanya aku tak bisa nikmati tawanya, sebaliknya bila aku
bisa nikmati “Matahari bulan Juli-nya” aku tak bakal bisa melihat kedua matanya
yang harus setengah terpejam saking sipitnya.
“ Lepas SMA nanti mau
lanjut kemana ?”
“Kemana aja asal bisa
jadi pegawai negri”
“Kenapa?”
“Biar Bapak Ibumu
yakin aku ini nasionalis juga”
“Kenapa harus sengotot
itu membuktikannya?”
“Karena aku mau
menikah dengan mu”
“Emangnya aku mau?”
“Emangnya aku serius?”
“Dasar Sipit!”
“Dasar Item”
Ha ha ha……………….
Waktu itu tahun 1990, rasanya sedikit sekali celah buat si “Matahari bulan Juli” jadi pegawai negri.
*****
Menjelang kenaikan kelas 2 SMA adalah hal membinggungkan sekaligus
menyedihkan, Bapak tiba-tiba dipindah tugaskan Ke Teluk Semangka dan kami harus
berkemas ringkas meninggalkan Tanjung Pinang.
“ Sejauh apa sih Teluk
Semangka itu?. Aku bosan pindah terus.”
“Nggak Jauh Ris, nanti
aku pasti kesana, ada familyku di Tanjung Karang, toh kita bisa saling berkirim
surat”
“Janji?”
“Aku janji, sepasti
matahari bulan juli”
Dan jemari kamipun bertautan, menembus hujan sepulang
sekolah hari itu.Air hujan yang menderas mengaburkan air mataku yang
mengalir hangat dipipi. Eddy akankah
kita bertemu lagi?
*****
Tiga atau empat surat kulayangkan tak satupun berbalas, ah
Eddy, kau pasti lupakan aku. Dan perlahan kukemas semua kenangan tentangnya di
sudut hati meski kadang aku mengendap diam-diam untuk kembali ke sudut itu
menikmati semua romansa manis bersamamu, indah, murni,perih.
*****
“Ris kamu susul kami
ke Jakarta secepatnya, Dokternya sudah dijadwalkan besok”
Telepon dari mbak Sekar mengagetkanku kemarin siang.
“Apa nggak bisa ditunda mbak?”
“Ditunda bagaimana, cuma beliau itu yang bisa operasi Bapak dan
jadwalnya padat sekali, minggu depan sudah terbang ke Tokyo untuk seminar.
Jangan pikirin catering terus, ini lebih penting, serahin aja ke anak
buah,kalau Radit nggak bisa antar kamu berangkat aja sendiri.Ini operasi
penting buat sembuhkan Bapak!”
Klik
Tanpa menunggu jawabanku mbak Sekar menutup telepon, so typical mbak Sekar. Dari dulu hingga
kini aku hanya seorang Udan Riris, yang semua pendapatku tak pernah di dengar,
mauku tak pernah dipahami,tak Bapak, tak juga Ibu apalagi oleh mbak Sekar.
Bahkan pernikahanku dengan Raditya yang hingga kini tak dikaruniai anakpun
terjadi begitu saja, perjodohan yang diatur rapi pada saat kuliahku semester
tiga dan tak pernah aku selesaikan sampai kini.
*****
Bekas prajurit yang gagah itu tampak lemah di ruang
observasi,seorang laki-laki tegas yang selalu bisa mengalahkan rintangan itu
terlihat rapuh, lelah bertempur dengan usia senja dan penyakit syaraf di
kepalanya yang menahun, dan kini ujung pisau seorang dokter spesialis semakin
melemahkannya meskipun akhirnya akan menyembuhkannya.
Mbak Sekar terlihat lelah duduk disamping Ibu yang tak henti
melantunkan ayat suci Al qur-‘an dengan lirih. Melihat aku memasuki ruang
observasi wajah mbak Sekar berubah gusar, mulutnya mulai mencang-mencong siap
memberondongku dengan kata-kata bernada protes.
Toh bukan salahku aku terlambat, aku berusaha secepatnya
memperoleh tiket Surabaya- Jakarta tapi cuaca yang sedang tidak menentu
akhir-akhir ini membuat penerbanganku tertunda lima jam hingga aku harus
melewatkan saat-saat penting operasi Bapak. Lagipula semua berjalan dengan
lancar tinggal menunggu masa-masa observasi ini berakhir. Apa lagi yang harus
dipermasalahkan? Aku duduk di sudut ruang dan mengucap syukur diam-diam.
Sejurus kemudian serombongan paramedis berbaju hijau muda
memasuki ruangan mengiringi seorang dokter. Sang Dokter memeriksa Bapak dan
kemudian bercakap sejenak dengan Ibu, melihat sosoknya sejenak otakku menjadi
sibuk oleh lintasan-lintasan pikiran , menumpulkan
seluruh indera pendengaranku sehingga
aku tak tahu lagi apa yang dibicarakan mereka berdua, aku terkaget ketika mbak
Sekar menyikut pinggangku dan berbisik.
“Semula kami juga
tidak menyangka dokter Eddy Ho adalah dia, baru tadi di sesi konsultasi sebelum
operasi kami bertemu langsung, semua sudah diatur dengan dokter di Surabaya, bahkan
Ibu juga hanya sekali berkomunikasi via telepon sebelum berangkat kesini. Kata
Ibu sampai sekarang nggak menikah lho. Patah hati.”
Nggak penting.
Aku belum sempat memikirkan apapun ketika Eddy menyapaku.
“Halo Ris, apa kabar?”
*****
Kami berdiri berhadapan di selasar Rumah Sakit ditemani deru
hujan.
Dua Puluh Satu tahun berlalu, dan
itu waktu yang lama, sangat lama untukku bisa melupakan semua kenangan cinta
SMA dan kini potongan terpenting dari puzzle hidupku berdiri sangat dekat
hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang lembut menyapa syaraf hidungku.
“Aku cuma punya satu pertanyaan…… kenapa kau tak pernah membalas semua
suratku, Ed?”
“Aku balas empat-empatnya, bahkan ada puluhan surat sesudahnya, akupun
berusaha menemuimu waktu liburan sekolah dan ajudan Bapakmu bilang kau tak bisa
lagi kutemui. Bisa apa aku Ris?”
“Aku tak tahu harus bagaimana lagi Ed, semua jadi canggung dan aneh”
“Nggak perlu Ris, setidaknya aku bisa membuktikan padamu aku seorang
Pegawai Negri saat ini, ha,ha”
Matahari bulan Juli nya
mengembang, sesaat menghentikan hujan badai yang berkecamuk di jiwaku.
“Nggak lucu Ed.”
“Setidaknya dari dulu aku
tak pernah berhenti percaya, Ris”
Air mata ku mulai jatuh tanpa bisa kutahan, tampias hujan
membasahi sebagian gaun dan ujung sepatuku, mungkin juga sepatunya.
Eksistensiku kembali diuji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar