Rabu, 22 Januari 2014

Udan Riris





 
“Waktumu cuma sepuluh menit, ingat sepuluh menit”
“ Inggih bu”
Kutemui Eddy di teras depan dengan perasaan enggan, mana bisa mengerjakan semua tugas kimia ini hanya dalam waktu sepuluh menit? Batinku berkeluh kesah.
“Ed kita bagi aja tugasnya, besok kita bahas pagi-pagi di sekolah”
Selalu saja berakhir seperti itu, penuh prejudice dan ketidak adilan, toh aku cuma berteman dengannya, apakah hanya karena namanya EDDY HO, atau karena kulitnya yang putih dan matanya yang sipit?
“Bu, mbak sekar tahun depan juga bakal menikah sama mas Fuad yang keturunan arab. Apa salahnya aku berteman sama Eddy Ho?”
“Jelas salah, ndak boleh”.
“Coba jelaskan dimana salahnya?”
“Yang jelas  beda, nggak penting salahnya dimana!!!”
“Apanya yang beda ?”
“Banyak.Titik!!!”
*****
Mbak Sekar selalu saja gatal berkomentar.
“Salahmu sendiri Ris kalau Bapak Ibu bersikap begitu, apa tidak bisa kamu bergaul dengan teman lain selain dia, tugas kelompok, pulang, pergi sekolah, jangan-jangan kalian juga mulai bolos berdua”
“ Bukan aku yang mau mbak, kalau kami selalu kebagian jadi satu kelompok, toh rumah kita berdekatan , nggak aneh juga  kalau kami sama-sama ke sekolah, emangnya aku harus nyamperin si Diana, itu namanya konyol  beda komplek, jauh pisan”.
“Kamu bisa nyamperin Hari, bisa juga sama Mawar, dasar aja kamu yang mau”
“Sudahlah mbak aku banyak tugas”
“Tapi memang kamu suka kan????”
Mukaku memerah.
 YA!
Aku sepertinya mulai suka dia.


*****
Matanya yang kecil selalu berbinar terang, belum pernah aku melihat bola mata sehitam itu, berkerlap-kerlip seperti bintang gemintang. Aku juga suka tawanya, barisan giginya yang rapi selalu menyeringai lepas tanpa beban  secerah “Matahari bulan Juli”. Tapi aku tak pernah bisa nikmati keduanya secara bersamaan. Bila aku bisa melihat gemintang dimatanya aku tak bisa nikmati tawanya, sebaliknya bila aku bisa nikmati “Matahari bulan Juli-nya” aku tak bakal bisa melihat kedua matanya yang harus setengah terpejam saking sipitnya.
“ Lepas SMA nanti mau lanjut kemana ?”
“Kemana aja asal bisa jadi pegawai negri”
“Kenapa?”
“Biar Bapak Ibumu yakin aku ini nasionalis juga”
“Kenapa harus sengotot itu membuktikannya?”
“Karena aku mau menikah dengan mu”
“Emangnya aku mau?”
“Emangnya aku serius?”
“Dasar Sipit!”
“Dasar Item”
Ha ha ha……………….
Waktu itu tahun 1990, rasanya sedikit sekali celah buat  si “Matahari bulan Juli” jadi pegawai negri.
*****
Menjelang kenaikan kelas 2 SMA  adalah hal membinggungkan sekaligus menyedihkan, Bapak tiba-tiba dipindah tugaskan Ke Teluk Semangka dan kami harus berkemas ringkas meninggalkan Tanjung Pinang.
“ Sejauh apa sih Teluk Semangka itu?. Aku bosan pindah terus.”
“Nggak Jauh Ris, nanti aku pasti kesana, ada familyku di Tanjung Karang, toh kita bisa saling berkirim surat”
“Janji?”
“Aku janji, sepasti matahari bulan juli”
Dan jemari kamipun bertautan, menembus hujan sepulang sekolah hari itu.Air hujan yang menderas mengaburkan air mataku yang mengalir  hangat dipipi. Eddy akankah kita bertemu lagi?
*****
Tiga atau empat surat kulayangkan tak satupun berbalas, ah Eddy, kau pasti lupakan aku. Dan perlahan kukemas semua kenangan tentangnya di sudut hati meski kadang aku mengendap diam-diam untuk kembali ke sudut itu menikmati semua romansa manis bersamamu, indah, murni,perih.
*****
“Ris kamu susul kami ke Jakarta secepatnya, Dokternya sudah dijadwalkan besok”
Telepon dari mbak Sekar mengagetkanku kemarin siang.
“Apa nggak bisa ditunda mbak?”
“Ditunda bagaimana, cuma beliau itu yang bisa operasi Bapak dan jadwalnya padat sekali, minggu depan sudah terbang ke Tokyo untuk seminar. Jangan pikirin catering terus, ini lebih penting, serahin aja ke anak buah,kalau Radit nggak bisa antar kamu berangkat aja sendiri.Ini operasi penting buat sembuhkan Bapak!”
Klik
Tanpa menunggu jawabanku mbak Sekar menutup telepon, so typical mbak Sekar. Dari dulu hingga kini aku hanya seorang Udan Riris, yang semua pendapatku tak pernah di dengar, mauku tak pernah dipahami,tak Bapak, tak juga Ibu apalagi oleh mbak Sekar. Bahkan pernikahanku dengan Raditya yang hingga kini tak dikaruniai anakpun terjadi begitu saja, perjodohan yang diatur rapi pada saat kuliahku semester tiga dan tak pernah aku selesaikan sampai kini.
*****
Bekas prajurit yang gagah itu tampak lemah di ruang observasi,seorang laki-laki tegas yang selalu bisa mengalahkan rintangan itu terlihat rapuh, lelah bertempur dengan usia senja dan penyakit syaraf di kepalanya yang menahun, dan kini ujung pisau seorang dokter spesialis semakin melemahkannya meskipun akhirnya akan menyembuhkannya.
Mbak Sekar terlihat lelah duduk disamping Ibu yang tak henti melantunkan ayat suci Al qur-‘an dengan lirih. Melihat aku memasuki ruang observasi wajah mbak Sekar berubah gusar, mulutnya mulai mencang-mencong siap memberondongku dengan kata-kata bernada protes.
Toh bukan salahku aku terlambat, aku berusaha secepatnya memperoleh tiket Surabaya- Jakarta tapi cuaca yang sedang tidak menentu akhir-akhir ini membuat penerbanganku tertunda lima jam hingga aku harus melewatkan saat-saat penting operasi Bapak. Lagipula semua berjalan dengan lancar tinggal menunggu masa-masa observasi ini berakhir. Apa lagi yang harus dipermasalahkan? Aku duduk di sudut ruang dan mengucap syukur diam-diam.
Sejurus kemudian serombongan paramedis berbaju hijau muda memasuki ruangan mengiringi seorang dokter. Sang Dokter memeriksa Bapak dan kemudian bercakap sejenak dengan Ibu, melihat sosoknya sejenak otakku menjadi sibuk oleh lintasan-lintasan  pikiran , menumpulkan  seluruh indera pendengaranku sehingga aku tak tahu lagi apa yang dibicarakan mereka berdua, aku terkaget ketika mbak Sekar menyikut pinggangku dan berbisik.
“Semula kami juga tidak menyangka dokter Eddy Ho adalah dia, baru tadi di sesi konsultasi sebelum operasi kami bertemu langsung, semua sudah diatur dengan dokter di Surabaya, bahkan Ibu juga hanya sekali berkomunikasi via telepon sebelum berangkat kesini. Kata Ibu sampai sekarang nggak menikah lho. Patah hati.”
Nggak penting.
Aku belum sempat memikirkan apapun ketika Eddy menyapaku.
“Halo Ris, apa kabar?”
*****
Kami berdiri berhadapan di selasar Rumah Sakit ditemani deru hujan.
Dua Puluh Satu tahun berlalu, dan itu waktu yang lama, sangat lama untukku bisa melupakan semua kenangan cinta SMA dan kini potongan terpenting dari puzzle hidupku berdiri sangat dekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang lembut menyapa syaraf hidungku.
“Aku cuma punya satu pertanyaan…… kenapa kau tak pernah membalas semua suratku, Ed?”
“Aku balas empat-empatnya, bahkan ada puluhan surat sesudahnya, akupun berusaha menemuimu waktu liburan sekolah dan ajudan Bapakmu bilang kau tak bisa lagi kutemui. Bisa apa aku Ris?”
“Aku tak tahu harus bagaimana lagi Ed, semua jadi canggung dan aneh”
“Nggak perlu Ris, setidaknya aku bisa membuktikan padamu aku seorang Pegawai Negri saat ini, ha,ha”
Matahari bulan Juli nya mengembang, sesaat menghentikan hujan badai yang berkecamuk di jiwaku.
“Nggak lucu Ed.”
“Setidaknya dari dulu aku tak pernah berhenti percaya, Ris”
Air mata ku mulai jatuh tanpa bisa kutahan, tampias hujan membasahi sebagian gaun dan ujung sepatuku, mungkin juga sepatunya. 
Eksistensiku kembali diuji.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar