Sumber foto : courtesy of google image
Seperti hampir semua suku bangsa
didunia, makan bersama adalah “ornamen” penting dalam acara kumpul-kumpul
masyarakat Lampung. Dalam acara kumpul bersama ini tak jarang atau malah hampir
bisa dipastikan seruit akan dihidangkan.
Acara makan bersama dengan hidangan seruit ini biasa disebut nyeruit.
Nyeruit sudah menjadi tradisi
turun-temurun oleh kedua suku dilampung
baik oleh adat suku Say Batin maupun adat suku Pepadun (Lampung pesisir), tidak
jelas sebenarnya siapa yang memiliki resep otentik seruit ini.
Mungkin banyak diantara pembaca
yang ingin tahu apa sih seruit itu ? Pada dasarnya seruit adalah sambal
mentah yang dihidangkan dalam cobek
besar atau wadah dengan cara
mencampurnya dengan berbagai macam lauk,
utamanya ikan bakar yang diambil dagingnya kemudian disuwir, terong bakar,
berbagai lalap sayuran baik mentah maupun yang direbus dan tentu saja nasi putih hangat.
Mungkin terdengar biasa saja ,
tetapi cara menyantapnyalah yang membuat acara nyeruit ini istimewa. Nyeruit adalah sebuah festival kebersamaan
yang hangat tanpa batas, tua muda atau
apapun status sosial anda akan cair dalam acara nyeruit ini. Semua orang
akan duduk melingkari wadah atau cobek yang berisi racikan seruit yang sudah
diencerkan dengan air perasan jeruk nipis dengan sepiring nasi putih, anda
dipersilahkan menjumput seruit dari wadahnya langsung dengan tangan anda Tanpa sendok) kemudian diletakan diatas nasi
anda dan langsung hap!!! Atau sebaliknya anda menjumput nasi dari piring untuk
kemudian dicocolkan ke seruit terserah mana yang yang anda suka. Tak sampai
semenit bisa dipastikan pasti acara nyeruit ini akan tampak berantakan dengan
seruit yang tercampur aduk dengan nasi yang menempel diujung jari para
penyeruit ditingkahi canda dan obrolan ringan, tangan saling bersenggolan
bahkan berebutan. Sungguh tak akan anda temukan suasana hangat ini dalam gala
dinner manapun.
Sumber foto : TribunLampung.com
Nyeruit bagi saya pribadi adalah sebuah inisiasi dalam hubungan
pertemanan, sebagai pendatang saya berusaha melebur dengan adat setempat
mencari sebanyak-banyaknya teman dan berusaha mempelajari adat istiadat tempat
saya menumpang hidup, setelah
beberapa saat saling mengenal dan merasa dekat, tetangga yang kebetulan adalah orang lampung asli mengundang saya untuk
nyeruit dengan ibu-ibu lain disekitar rumah, yang saya langsung iyakan tanpa
keraguan, karena disaat itulah saya merasa benar-benar lebur dan diterima menjadi
bagian masyarakat ditempat baru saya, hubungan kami menjadi lebih dekat dan
hangat, sehangat sensasi seruit di mulut saya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar