Sabtu, 18 Januari 2014

SERUIT LAMPUNG, makan bersama yang sarat makna





Sumber foto : courtesy of google image

Seperti hampir semua suku bangsa didunia, makan bersama adalah “ornamen” penting dalam acara kumpul-kumpul masyarakat Lampung. Dalam acara kumpul bersama ini tak jarang atau malah hampir bisa dipastikan seruit akan dihidangkan.  Acara makan bersama dengan hidangan seruit ini biasa disebut nyeruit.
Nyeruit sudah menjadi tradisi turun-temurun  oleh kedua suku dilampung baik oleh adat suku Say Batin maupun adat suku Pepadun (Lampung pesisir), tidak jelas sebenarnya siapa yang memiliki resep otentik seruit ini.
Mungkin banyak diantara pembaca yang ingin tahu apa sih seruit itu ? Pada dasarnya seruit adalah sambal mentah  yang dihidangkan dalam cobek besar  atau wadah dengan cara mencampurnya  dengan berbagai macam lauk, utamanya ikan bakar yang diambil dagingnya kemudian disuwir, terong bakar, berbagai lalap sayuran baik mentah maupun yang direbus  dan tentu saja nasi putih hangat.
Mungkin terdengar biasa saja , tetapi cara menyantapnyalah yang membuat acara nyeruit ini istimewa. Nyeruit adalah sebuah festival kebersamaan yang hangat tanpa batas, tua  muda atau apapun status sosial anda akan cair dalam acara nyeruit ini. Semua orang akan duduk melingkari wadah atau cobek yang berisi racikan seruit yang sudah diencerkan dengan air perasan jeruk nipis dengan sepiring nasi putih, anda dipersilahkan menjumput seruit dari wadahnya langsung dengan tangan anda  Tanpa sendok) kemudian diletakan diatas nasi anda dan langsung hap!!! Atau sebaliknya anda menjumput nasi dari piring untuk kemudian dicocolkan ke seruit terserah mana yang yang anda suka. Tak sampai semenit bisa dipastikan pasti acara nyeruit ini akan tampak berantakan dengan seruit yang tercampur aduk dengan nasi yang menempel diujung jari para penyeruit ditingkahi canda dan obrolan ringan, tangan saling bersenggolan bahkan berebutan. Sungguh tak akan anda temukan suasana hangat ini  dalam gala dinner manapun.

                                                     Sumber foto : TribunLampung.com

Nyeruit bagi saya pribadi adalah sebuah inisiasi dalam hubungan pertemanan, sebagai pendatang saya berusaha melebur dengan adat setempat mencari sebanyak-banyaknya teman dan berusaha mempelajari adat istiadat tempat saya menumpang hidup, setelah beberapa saat saling mengenal dan merasa dekat, tetangga yang kebetulan adalah orang lampung asli mengundang saya untuk nyeruit dengan ibu-ibu lain disekitar rumah, yang saya langsung iyakan tanpa keraguan, karena disaat itulah saya merasa benar-benar lebur dan diterima menjadi bagian masyarakat ditempat baru saya, hubungan kami menjadi lebih dekat dan hangat, sehangat sensasi seruit di mulut saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar