Rayhan masih saja kesal karena dirinya harus pindah
sekolah ke Bergen, tempat ayahnya ditugaskan. Setiap hari ada saja yang
dikeluhkannya. Dari ketidak nyamanan gedung sekolah sampai tingkah laku
teman-temannya yang dia anggap kampungan. Maklum sebelumnya Rayhan bersekolah
di salah satu Sekolah Dasar Islam paling elit di Jakarta, semua ruangan ber AC dan nyaman. Hari
ini pun Rayhan kembali malas-malasan untuk berangkat ke sekolah, padahal jam di
kamarnya sudah enam kali berdentang menandakan sudah pukul enam pagi.
“ Ayo Ray segera mandi, air panas sudah mama siapkan
nih” kata mamanya dari balik pintu kamar.
Rayhan cuma sedikit berganti posisi, dari subuh tadi
setelah shallat Rayhan malah tidur-tiduran diatas sajadah sambil membaca
ensiklopedia .Tak mendapatkan jawaban, sang mama perlahan membuka pintu.
“Masya Allah, Ray, ayo dong sudah pukul enam, nanti
terlambat. Hari jumat kan harus senam pagi” kata mamanya sambil menghampiri
Rayhan.
“ Bisa nggak sih ma, hari ini tidak sekolah?” kata
Rayhan sambil menutup ensiklopedianya.
Sang mama menghela nafas sambil beristigfar dalam
hati, “ Ray, pembahasan mengenai sekolahmu sudah cukup, lama-lama kau akan
betah disana, apalagi setelah kau menemukan sahabat yang cocok. Toh mama lihat
teman-temanmu cukup baik dan santun”. Dengan kasih sayang mamanya menarik
lengan Rayhan dan membimbingnya menuju kamar mandi.
“Ayo dong masak mama harus gendong anak kelas 3 SD
?” gurau mama.
Rayhan tersenyum kecut, perasaannya bercampur aduk
pagi ini seperti hari-hari sebelumnya. Sekolah adalah hal yang paling tidak
menyenangkan, pikirnya.
*****
Bel tanda masuk sekolah berdering tepat ketika mama menghentikan
mobil didepan pintu gerbang sekolah. Rayhan bergegas turun setelah mencium
tangan mamanya.
“Assalamualaikum, ayo cepat Ray, kita harus ikut
senam pagi” sapa Ridho dari depan pintu kelas saat dirinya melihat Rayhan
datang dengan tergesa-gesa.
“Walaikum Salam” jawab Rayhan pelan. Huh sok akrab,
batin Rayhan, di letakannya tas dan tempat makan siangnya diloker dan dia pun
segera bergabung dalam barisan murid-murid kelas 3 .
Rayhan tampak malas-malasan mengikuti senam pagi itu
, dia sengaja memilih berada di pojok paling belakang . Begitu pula ketika
kegiatan senam usai, Rayhan berjalan gontai menuju kelasnya kembali tanpa
memperdulikan teman-temannya yang asyik bersenda gurau. Pikirannya melayang ke bekas
sekolah dan teman-temannya, “ Sedang apa ya mereka?” gumamnya pelan, lehernya
terasa mengganjal karena menahan tangis.
*****
Saat makan siang tiba, seperti biasanya anak-anak
berkumpul membentuk lingkaran sebelum makan mereka membuka kotak bekal masing
masing dan bu Fitria meletakan sebuah piring lebar di tengah lingkaran. “Ayo
anak-anak siapa yang mau berbagi hari ini, silahkan meletakkan makanan kalian
di sini ya” kata bu Fitria . Teman-teman Rayhan satu per satu meletakan makanan
yang dengan ikhlas hendak mereka bagi kepada teman yang lain, Sarah paling dulu
meletakkan pisang rebus, diikuti Aisyah yang kali ini membawa kue pukis, sampai
pada akhirnya semua telah berbagi kecuali Rayhan. “Silahkan Rayhan apakah akan
berbagi hari ini?” Tanya bu Fitria dengan tersenyum ramah. Rayhan hanya menggeleng lemah “ Tidak bu”
katanya pelan. “ Baiklah
kalau begitu, silahkan anak-anak ambil yang kalian suka, tertib ya jangan
berebut” Kata bu Fitri memberi perintah kepada semua murid.Setelah mengucapkan
doa sebelum makan semua murid makan dengan tertib, Rayhan duduk memojok sambil
memakan bekalnya tanpa berkata sepatah katapun wajahnya murung dan tak
bergairah. Dari awal masuk sekolah belum sekalipun Rayhan berbagi dan bertukar makanan dengan teman
sekelasnya, baginya bekal teman-temannya sungguh kampungan dan terlihat tidak
enak. Tiba-tiba bu Fitria kembali membuyarkan lamunannya “ Oh ya besok kita
akan berkunjung ke Pusat Budi Daya Ikan Laut di Hanura berkaitan dengan
pelajaran IPA yang sedang kita bahas, kalian harus membawa bekal yang cukup
jangan lupa membawa banyak air minum ya, disana tidak ada satupun penjual
makanan. Nanti sebelum pulang ibu akan membagikan surat pemberitahuan untuk
orang tua kalian” kata bu Fitria lagi. “ Baik bu” Anak-anak hampir serempak
menjawab, sekonyong-konyong suasana kelas menjadi ramai dipenuhi olah suara
teman-teman Rayhan yang saling bercakap-cakap membicarakan betapa tak sabarnya
mereka untuk mengunjungi Hanura, semua tampak gembira dan antusias kecuali
Rayhan tentunya.
*****
Sabtu pagi Rayhan sambil sarapan di liriknya mama
yang sedang sibuk menyiapkan bekal dan perlengkapan bagi Rayhan. “ Ma, tak
perlu sebanyak itu, Rayhan malas bawa yang berat-berat” kata Rayhan sambil
menyuapkan sereal ke mulutnya. Mama sejenak menghentikan pekerjaannya” Aduh
anak sholeh kalau lagi makan jangan bicara. Ini sengaja Mama siapkan lebih
untuk kau bagi dengan teman-temanmu”.
“ Huh enak saja, makanan Rayhan kan enak-enak masak
mau ditukar dengan pisang rebus, makanan mereka kampungan Ma !” Rayhan tampak
langsung merengut. Mama menggelengkan kepalanya, sedih melihat sikap anaknya
yang sombong, dalam hati mama berdoa “ Ya Allah
Yang Maha Pengasih berilah petunjuk dan bukakanlah pintu hati anak ku
agar dia bisa menyayangi dan menghargai sesamanya. Amin”. Belum sempat mama
menasehati Rayhan tiba-tiba jam
berdentang tujuh kali. “ Astagfirullah sudah jam tujuh ayo pakai sepatumu kita
berangkat” Kata mama sambil bergegas mengambil kunci mobil dan berlari kearah
garasi. Rayhan tanpa berpikir panjang langsung menyambar tas sekolahnya dan berlari
kecil mengikuti Mama menaiki mobil menuju sekolah.
*****
Kunjungan ke Pusat Budi Daya Ikan di Hanura sangat menyenangkan
, disana banyak sekali jenis ikan, Kuda laut bahkan Plankton. Rayhan dan
teman-teman sangat antusias mendengarkan penjelasan dari Ir. Sutarman yang
ramah dan sabar melayani semua pertanyaan anak-anak. Tanpa terasa kegiatan
mereka sudah berakhir.Setelah mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan
dengan para petugas, anak-anak diarahkan
oleh guru ke aula yang sudah disediakan untuk beristirahat dan makan siang.
Saat semua anak-anak mulai mengeluarkan bekal Rayhan tampak kebingungan
mengaduk-aduk ranselnya, berulang-ulang dia memeriksa isi tasnya, ternyata tak
satupun bekal yang disiapkan oleh mama pagi tadi diketemukannya. Mama pasti
lupa memasukan bekal karena terburu-buru dan Rayhan pun tanpa memeriksa langsung
menyambar ranselnya karena takut terlambat. Sesaat dia merasa panik,
kerongkongannya terasa kering karena menahan haus sejak tadi, perutnya pun
mulai keroncongan. Teman-teman yang lain sudah mulai makan dan mereka saling
berbagi seperti biasanya. “ Kenapa Rayhan tidak makan?” Sapa bu Fitria. “Bekal
saya ketinggalan Bu” jawab Rayhan. Bu Fitria tersenyum lembut “ Jangan khawatir
Rayhan” Katanya sambil menebarkan pandangan ke
semua temannya dengan senyum penuh arti, mereka langsung menghentikan
kegiatan makan siang. Ridho mengeluarkan sekotak susu cair untuk Rayhan “ Nih
untukmu, aku punya dua” katanya sambil tersenyum manis. Sesaat Rayhan merasa
malu tapi rasa hausnya sudah tak tertahan kan lagi, diraihnya susu dari Ridho
sambil mengucap terimakasih. Tak lama semua teman langsung membagikan berbagai
makanan milik mereka untuk Rayhan. Rayhan menahan malu dan hatinya merasa
menyesal karena teman-temannya tak menaruh dendam atas sikapnya selama ini. “
Ternyata pisang rebus enak juga” kata Rayhan. “ Kalau begitu besok senin kau
tukar dengan burger mu Ray” Kata Sarah disambut tawa seluruh temannya. Rayhan
menyantap satu demi satu makanan yang di berikan oleh temannya semua makanan
terasa nikmat karena perutnya sangat lapar. Dalam hatinya dia berjanji untuk
tidak lagi bersikap sombong. Hari itu Rayhan mendapatkan sebuah pelajaran
berharga sekaligus mendapatkan banyak teman kembali.