Jumat, 24 Januari 2014

Tradisi Bakar Batu Papua


Papua adalah suatu kawasan eksotik dengan sumber daya melimpah  yang berada di wilayah paling timur Indonesia. Keragaman tradisi dan budaya masyarakatnya belum banyak terekspos dunia luar karena letak geografis yang begitu jauh dari pusat pemerintahan membuat sarana transportasi  adalah barang langka dan berharga. Hal ini mempersulit akses untuk mengunjunginya  karena memerlukan biaya tidak sedikit bila kita ingin mencapai kawasan tersebut dari wilayah Indonesia bagian barat. Faktor inilah yang menjadikan  wilayah ini  masih relatif terisolir disamping kontur alam dan keragaman bahasa masing-masing sukunya juga menjadi faktor penghambat lainnya.
Salah satu suku terbesar dan terkenal di papua adalah suku Dani, suku ini menduduki wilayah lembah Baliem yang berbukit-bukit dan subur, mereka mempunyai kekayaan tradisi terutama tradisi ukir, ukiran  suku ini sudah terkenal sampai ke penjuru dunia.
Tradisi lain yang tak kalah terkenalnya adalah acara bakar batu . Bakar batu adalah salah satu cara suku dani dan suku-suku lainnya untuk mempersiapkan makanan didalam upacara khusus atau kumpul-kumpul biasa.
Mereka membedakan acara bakar batu, untuk upacara khusus, misalnya kematian, perkawinan, perdamaian antar suku yang baru saja berperang . Sedangkan bakar batu non ritual adalah untuk acara kumpul keluarga biasa.
Mereka membedakan tempat memasak, jumlah orang memasak dan juga terdapat ornamen adat penting lainnya yang diperlukan dalam  bakar batu untuk upacara khusus.
Contohnya dalam upacara kematian, kerabat dekat diharuskan untuk membawa babi, atau apabila babi sudah tersedia mereka bisa menggantikannya dengan tembakau, rokok, garam atau barang-barang yang bagi kita begitu sepele tapi sulit didapat oleh mereka seperti gula.
Begitupula tempat memasak bagi  upacara khusus tidak boleh sembarangan, bila bakar batu untuk harian bisa dilakukan disamping hunila (rumah orang papua) maka untuk upacara khusus harus dilakukan di  Silimo ( sebuah lapangan yang diapit oleh hunila dan honai) bahkan bisa juga dilakukan di tanah lapang yang luas apabila melibatkan orang dan suku yang lebih banyak.
Aturan bakar batunyapun lebih ketat,   diameter lubang harus mencapai 2 meter sehingga cukup untuk menumpuk beberapa ekor wam ( babi hutan) ,hipere (umbi-umbian),  serta  sayuran, dan   hanya daun lokop dan lukata yang boleh dipakai untuk melapisinya. Dalam acara khusus ini  kepala adat akan membuka ritual dengan cara memanah babi yang akan dibakar, sebelumnya para lelaki menyiapkan setumpuk kayu  untuk membakar batu-batu sebesar melon  untuk dipanaskan diatas tumpukan kayu yang menyala selama kurang lebih 4 jam. Setelah kayu menjadi abu tinggalah batu yang membara panas . Batu panas itu kemudian disusun ke dalam liang  berukuran 2 meter (atau lebih kecil untuk bakar batu harian)menggunakan bilah bambu atau pelepah sagu yang dibelah untuk menjepitnya. Para wanita  akan menyusun daun lokop hingga menutupi seluruh permukaan batu , setelah itu hipere (umbi), wam (babi hutan), sayur mayur seperti daun singkong, daun pepaya  akan dimasukan bersama jagung untuk kemudian dilapisi lagi dengan setumpuk daun lokop dan daun pisang setelah ditaburi garam. Pada lapisan paling atas sisa batu akan ditumpuk bisa ditumbun dengan tanah untuk mengunci panas dan uap agar tidak keluar.
Diperlukan waktu hingga satu jam untuk menunggu hasil masakan matang, ketika masakan matang merata itu tandanya ritual mereka diterima oleh para leluhur dan segala sesuatu akan berjalan dengan baik. Tetapi apabila ada bagian yang tidak matang itu merupakan pertanda bahwa sesuatu yang salah telah terjadi dan mereka harus melakukan pembenahan dalam kehidupan mereka.
Ketika masakan telah matang, mereka membongkar batu untuk kemudian menghidangkan makanan tersebut diatas selembar daun pisang. Kepala suku akan mendapat potongan terbaik pertama dari babi yang di bakar, selanjutnya seluruh anggota suku akan memulai acara makan dengan gembira.

Sumber foto :       fotokita.com
                            Google image
Bahan acuan :      Kompas minggu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar