Seperti hal yang lazim sekarang
ini kita melihat orang bersusah payah mencari air di bulan Desember karena
kekeringan, atau sebaliknya hujan tiada henti di bulan Juli atau Agustus. Dulu
ketika saya melalui masa kanak-kanak saya di sebuah desa kecil di lereng gunung
Perahu sepertinya alam tak pernah ingkar janji, simbah saya pernah bilang
apabila nama bulan sudah diahiri dengan “mber” ya berarti tanah, kebun dan
seisi jagat kecil saya akan “jember” (basah kuyup) dan memang benar memasuki
September, Oktober,November serta Desember hujan pasti akan menjadi teman kita
sehari-hari dan puncaknya adalah bulan Januari yang menurut versi simbah adalah
bulan hujan sehari-hari.
Bulan April dan Mei adalah bulan
dimana hujan mulai menipis dan seluruh jagat kecil saya berwarna hijau tunas,
bau wangi kembang kopi dan udara pagi sangat menggigit mengilukan tulang. Juni
dan juli adalah saat-saat yang mulai menghangat dan kemaraupun tiba pada
puncaknya di bulan Agustus ketika debu membumbung di tanah lapang saat segala
keriaan tumpah ruah disana, upacara 17 an, panjat pinang, kuda kepang dan
atraksi lainnya di gelar. Tapi itu tak terjadi lagi sekarang ini, cuaca semakin
tidak menentu, hujan bisa datang kapan saja atau mangkir semaunya.
Dan tahukah anda pergeseran musim
juga terjadi di dunia pendidikan kita berkenaan dengan SPMB (Sistim Penerimaan
Murid Baru)?
Dulu (Ehm kembali lagi) saat saya
mulai berkenalan dengan yang namanya sekolah, Ibu memakaikan gaun terbaik yang
saya punya suatu pagi di bulan Juni, sambil membantu saya memakaikan kaos kaki
dan sepatu, ibu berkata bahwa hari itu saya akan didaftarkan sekolah di SD,
saya tak terlalu tahu apa maksudnya yang jelas beberapa minggu setelah itu saya
bangun setiap pagi memakai seragam dan menyandang tas, belajar mengeja “ini
budi” dan mengenal angka, saya gembira tak ada les tak ada beban tanpa sadar
saya sudah bisa menulis dan membaca.
Begitu pula yang terjadi saat
lulus SD dan SMP saya akan selalu sibuk mendaftar dan memilih sekolah di bulan
Juni, dan ketika saya sudah mulai mengerti di bulan-bulan itulah para orang tua
harus mengeluarkan biaya ekstra untuk kelangsungan pendidikan putra putrinya.
Sekarang ketika jaman sudah
berganti dan sayapun berganti peran menjadi ibu yang membantu memakaikan kaos
kaki dan sepatu bagi anak sulung saya, untuk mendaftar disekolah dasar terbaik
(bermutu dan terjangkau oleh kami),itu tak lagi bulan Juni tapi saya lakukan di
bulan Januari ketika semester kedua di TK B baru berjalan beberapa minggu.
Bahkan saya terlalu terlambat untuk mendapat potongan uang pangkal 20% karena
gelombang pertama sudah dibuka di bulan Oktober 2011.
Ini terjadi disemua sekolah
swasta terbaik di kota kami dan saya yakin di seluruh Indonesia pergeseran
musim ini terjadi, sebelum saya menuliskan cerita ini saya berselancar di dunia
maya untuk lebih memastikan lagi , dan ternyata beberapa sekolah swasta yang
yang memiliki cabang di hampir seluruh kota besar di Indonesia telah
selesai melakukan seleksi untuk calon
siswa jauh-jauh hari dan mengumumkan hasilnya pada pertengahan Desember 2011.
Pergeseran musim mengejala beberapa tahun terakhir ini, tetapi
sepertinya sekarang pergeserannya ibarat aliran bengawan solo, sudah terlalu
jauh akhirnya kelaut. Disatu sisi memang kita sebagai orang tua diuntungkan tak
perlu berpusing tujuh keliling karena sekolah anak sudah didapat jauh-jauh
hari, tetapi bagi orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak bisa melakukan pendaftaran awal mau tak
mau membayar lebih mahal atau harus berlapang dada menyekolahkan anak di
sekolah yang kurang cocok atau kurang berkualitas.
Tidak menutup kemungkinan suatu
hari nanti kita harus indent untuk mendapatkan tempat di SMA favorit ketika
kita mendaftarkan anak di TK. Bahkan
kemungkinan terburuknya adalah anak saya harus mendaftarkan cucu saya begitu
lahir kedunia hanya untuk bersekolah TK empat tahun kemudian.
Mungkin anda akan bilang ah
penulis mengada-ada toh penerimaan sekolah negeri tetap pada pakemnya, sekarang
saya balik bertanya kenapa kelas menenggah di negeri ini lebih banyak
mempercayakan pendidikan anak kesekolah swasta.
Tanya kenapa ???? (jadi kayak
iklan rokok ya…)
Tanyakan saja pada rumput yang
bergoyang………….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar