Suatu musim panas ketika saya tinggal di Perth saya memutuskan
untuk melakukan kunjungan sehari ke Rotness Island, sebuah pulau kecil yang
bisa ditempuh kurang lebih 30 menit dari freemantle dengan menggunakan kapal
cepat. Saya penasaran karena katanya pulau itu dulu dikuasai oleh juragan kaya
yang memupuk uangnya dari hasil jualan garam yang dia ekstrak dari air laut di
sekitar pulau itu dengan bantuan tenaga gratis tanpa bayar , yaitu orang-orang aborigin
yang terlibat kasus kriminal dan dipenjarakan di pulau itu oleh pemerintahan
kolonial Inggris.
Karena saya melakukan perjalanan seorang diri, saya malas
repot dan nggak pengen terlantar maka saya membeli paket perjalanan di dermaga seharga AUS $ 125 (sekarang AUS $
185) yang meliputi perjalanan dengan kapal cepat ke dan dari Rotness Island plus voucher makan siang di restoran yang
tersedia disana ditambah tour dengan bus
mengelilingi pulau dipandu oleh tour
guide yang professional dan tak pernah
lelah tersenyum.
Singkat cerita akhirnya saya benar-benar berada disana ,
lautnya yang biru jernih pasirnya yang putih dibawah atap langit biru tak
terbatas membuat semua orang bergumam kagum .Sebenarnya kalau mau jujur sih
nggak jauh beda dari resort-resort di kepulauan seribu (itu lho yang di utara
Jakarta ibu kota negera kita tercinta) tapi bedanya adalah penataan serta
pengelolaan secara professional lokasi bersejarah di rotness island itulah
yang membedakan tempat itu jadi benar-benar berkesan. Saya jadi mikir kapan ya
kita sadar untuk lebih melakukan segala sesuatunya dengan baik dan benar
sehingga orang-orang Indonesia nggak perlu pergi keliling kemana-mana hanya
untuk menikmati sejumput pasir putih, kita punya itu jauh lebih buanyak dan
lebih baik.
Begitu menginjakkan kaki di dermaga kayu, saya mengikuti arus
turis menuju ke pulau rotness yang indah permai tersebut, hal pertama yang saya
lakukan sebagai turis yang baik dan
benar (setidaknya saya berusaha menjadi………….) adalah menuju bagian informasi,
sedikit chit chat memastikan ini itu , mengambil brosur serta peta lokasi sembari
menunggu tour bus yang akan menjemput.
Tiba saat tour keliling pulau semua aman terkendali, lihat ini itu salaman sama wallaby (sejenis
kanguru kecil) , melonggok ke mercu suar, and so on and so on nggak terasa bus
berhenti di tempat semula saya dijemput
yang artinya tour sudah berakhir dan tiba waktunya makan siang yang
yummy di pinggir pantai. Menunya mak nyus dan boleh pilih satu set menu,
pokoknya nggak rugi deh bayar mahal .
Sehabis makan rasanya bakalan ngatuk kalau hanya duduk selama dua jam setengah di beranda
restoran sembari menunggu jemputan fery
dan saya akan merasa rugi dan bodoh sekali tidak menikmati pulau yang
indah permai ini tanpa sedikit jalan-jalan, awalnya agak celingak celingguk
sih, mau motret sana sini udah habis film berol-rol (waktu itu kamera digital
masih belum terlalu familiar) dan lagian nggak ada lagi object menarik yang
bisa diabadikan akhirnya saya putuskan untuk membuat catatan perjalanan di note
saya yang sedari tadi sudah penuh dengan
note ini itu, lumayan untuk bahan tulisan sepulang ke tanah air, siapa tahu
dapat honor……………….
Nah disinilah the story begin……………………………, kejadian yang memalukan
dan menjadi bahan ketawaan sampai sekarang, maluuuuuuuuuuuuuuuuuuu banget kalau
inget. Kadang emang saya sok yakin dan sok sibuk, itu kelemahan saya, males
dilihat turis lain saya doing nothing , udah sendirian memble aje, kacian dech lu ! gitu kali pikiran mereka
kalau lihat saya diam aja toh saya ke rotness mau lihat pulau bukan mau liatin
orang itu sih di Indonesia buanyak, ya nggak ?
Saya mulai gerilya dari penjara ke kuburan orang aborigin,
lihat-lihat toko cindera mata udah semua dijabanin, tinggal satu bangunan yang nggak terlalu besar
bertembok tebal dengan dua buah jendela yang segede pintu (jendelanya aja
segede pintu gimana pintunya?). Saya nggak tahu bangunan apa itu dan nggak ada
petujuk apapun tapi tampaknya cukup penting karena setiap rombongan turis yang
dipandu oleh tour guide akan berhenti ditempat itu dan mereka pasti akan
manggut-manggut setelah mendengar keterangan dari si gaet (baca : guide).Rasa
penasaran saya masih juga belum terjawab ketika ada serombongan nona jepang
yang dipandu oleh dua orang gaet, dasar udah kebelet pengen tahu maka saya
memberanikan diri menyela mereka. Saya dengan sok PD nya meminta waktu kepada
si gaet wanita , yang dengan sopan dan ramahnya melayani saya. Biar lebih
meyakinkan saya keluarkan recorder untuk memberikan kesan bahwa saya sangat
membutuhkan informasi tersebut untuk tulisan saya di majalah antah berantah,
pokoknya pengen ngeyakinin si gaet bule
bahwa nggak sia-sia deh saya menyela, karena misi saya lebih penting dari pada
turis jepang yang mereka pandu yang
cekikikan sedari tadi sambil sibuk bergantian mengabadikan foto mereka dengan
gaya yang hampir seragam dan tak lupa
mengacungkan dua jari membentuk huruf V (sok imyut).
Si bule mulai memberikan keterangan dan saya bersiap dengan
menekan tombol on eh dasar sial ternyata tombolnya sudah dalam posisi on sejak
tadi dan tenaga baterepun sudah lenyap tanpa bekas, tapi kepalang tanggung dan
agak panik juga sih waktu itu saya berlagak nggak terjadi apa-apa dan tetap
mengacungkan recorder saya dengan harapan si bule nggak menyadarinya. Sekilas
saya lihat sih perubahan raut mukanya tapi kemudian dia terus memberikan
keterangan kepada saya. Beres! Begitu pikir saya sambil terus melakukan aksi
“sok wartawan professional “ saya, si bule nggak tahu saya hanya berpura-pura
(piker saya)
Setelah memberikan keterangan panjang lebar akhirnya kami
berpisah dan saya berbasa-basi mengucapkan terima kasih,si lady gaet pun
memberikan senyuman maniez kepada saya entah apa artinya dan pada waktu itu
saya masih PD bahwa itu adalah senyuman yang tulus (bukan ejekan).
Ketika kaki sudah kram dan nggak ada lagi yang bisa di lakukan
saya memutuskan untuk ngopi di café dekat dermaga, saya masih punya waktu 20
menit sebelum fery bertolak ke freemantle, sepertinya semua turis tumplek bleg
di café itu sekilas saya melihat si lady gaet bersama teman-temannya juga ngopi
di situ, saya duduk sekitar tiga meter dari mejanya dan ternyata mereka sedang
membicarakan kebodohan saya yang berpura-pura dengan “recorder kehabisan
batere” saya.
Sambil senyum-senyum simpul
mereka memandangi saya yang tiba-tiba pengen berenang saja kembali ke
freemantle karena 20 menit menunggu ferry terlalu lama untuk menanggung malu akibat
perbuatan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar