Minggu, 11 Januari 2015

Ayah, ajari aku bermain layang-layang



Ayah, saat aku kanak-kanak tak seorangpun bercerita padaku seperti apa rasanya menggenggam benang ketika layang-layang mengudara. Aku sering  melihat  anak laki-laki lain bermain layang-layang dari balik kaca mobil ketika pulang sekolah. Aku ingin sekali bermain bersama, tapi aku tak tahu bagaimana caranya bergabung dengan mereka.

Dulu  ada layang-layang tersangkut di pohon mangga. Warnanya kuning dengan garis merah dan biru. Pelan-pelan kuturunkan dengan galah. Ajaib! Layang-layang itu tak rusak sedikitpun. Serasa mendapatkan hadiah dari langit, aku begitu gembira.

Ketika kuminta benang kepada ibu, aku bingung cara memasangkannya. Ibupun tak tahu bagaimana melakukannya. Aku tak sabar menunggumu pulang !!!!
Malam itu kau pulang larut seperti biasa, wajahmu kusut dan tampak lelah tapi aku begitu gembira ingin menujukan harta karun baruku. Kau hanya melihat tanpa menyentuh layang-layang itu sambil menggumamkan kata yang tak kumengerti. 

Betapa kecewanya aku, Ayah. Sepanjang sore kutunggu tapi kau tenggelam dalam duniamu setiba dirumah. Membaca majalah, menonton berita, mendengarkan ulasan para ahli tentang apa yang sedang terjadi diluar sana. Apakah kau perduli apa yang terjadi dalam duniaku ??? Kuberharap kau akan melihat layang-layangku keesokan paginya. Tapi aku kembali menelan hampa karena kau tak henti bicara di telepon tanpa sempat menyentuh sarapanmu.

Ketika aku merengek kepada ibu, wajahnya begitu sendu dan meminta maaf padaku sambil mengutuki dirinya sendiri karena tak bisa memasang benang layang-layang dan mengajariku menerbangkannya.

Dadaku ingin meledak Ayah, terdorong keinginan yang begitu menggebu dan rasa kecewa. Tak terasa air mataku menetes, kerongkonganku terasa sakit menahan sedan. Meski kau selalu bilang anak laki-laki tidak boleh menangis. Tapi itulah yang kulihat dari ibu ketika kau kecewakan.
Kusimpan layang-layang itu kembali, sambil kugantung harap suatu hari kau akan mengajariku bermain layang-layang.

Kini tahun berlalu, layang-layang itu tak ada lagi. Engkau tak lagi bicara kepadaku. Kau kecewa karena aku begitu pandai memasang bulu mata palsu tapi tak bisa memaku tembok. Aku begitu lincah  menari dalam cabaret tapi tak sanggup menendang bola. Aku bingung menentukan diriku. Ketika aku menenggok kemasa lalu tak ada satupun catatan tentangmu. KOSONG. Aku tak punya kenangan bermain denganmu.

Aku dipenuhi tanya, Ayah, kenapa kau begitu marah, memaki seolah aku sampah, dan berteriak AKU BANCI.

 Tak sekalipun kau mengenalkan aku duniamu, bagaimana cara laki-laki berkelahi. Aku akan menangis seperti ibu ketika aku kesal karena aku tak pernah tahu apa yang kau lakukan ketika kesal. Sepanjang hidupku aku hanya Ibu temanku. Kau dimana Ayah??? 

Ayah, aku tak lagi berharap banyak. Tapi di malam yang gelisah aku  bermimpi kau mengajariku bermain layang-layang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar