Ayah, saat aku
kanak-kanak tak seorangpun bercerita padaku seperti apa rasanya menggenggam
benang ketika layang-layang mengudara. Aku sering melihat
anak laki-laki lain bermain layang-layang dari balik kaca mobil ketika
pulang sekolah. Aku ingin sekali bermain bersama, tapi aku tak tahu bagaimana
caranya bergabung dengan mereka.
Dulu ada layang-layang tersangkut di pohon mangga.
Warnanya kuning dengan garis merah dan biru. Pelan-pelan kuturunkan dengan
galah. Ajaib! Layang-layang itu tak rusak sedikitpun. Serasa mendapatkan hadiah
dari langit, aku begitu gembira.
Ketika kuminta benang
kepada ibu, aku bingung cara memasangkannya. Ibupun tak tahu bagaimana
melakukannya. Aku tak sabar menunggumu pulang !!!!
Malam itu kau pulang
larut seperti biasa, wajahmu kusut dan tampak lelah tapi aku begitu gembira
ingin menujukan harta karun baruku. Kau hanya melihat tanpa menyentuh
layang-layang itu sambil menggumamkan kata yang tak kumengerti.
Betapa kecewanya aku,
Ayah. Sepanjang sore kutunggu tapi kau tenggelam dalam duniamu setiba dirumah.
Membaca majalah, menonton berita, mendengarkan ulasan para ahli tentang apa
yang sedang terjadi diluar sana. Apakah kau perduli apa yang terjadi dalam
duniaku ??? Kuberharap kau akan melihat layang-layangku keesokan paginya. Tapi
aku kembali menelan hampa karena kau tak henti bicara di telepon tanpa sempat
menyentuh sarapanmu.
Ketika aku merengek
kepada ibu, wajahnya begitu sendu dan meminta maaf padaku sambil mengutuki
dirinya sendiri karena tak bisa memasang benang layang-layang dan mengajariku
menerbangkannya.
Dadaku ingin meledak
Ayah, terdorong keinginan yang begitu menggebu dan rasa kecewa. Tak terasa air
mataku menetes, kerongkonganku terasa sakit menahan sedan. Meski kau selalu
bilang anak laki-laki tidak boleh menangis. Tapi itulah yang kulihat dari ibu
ketika kau kecewakan.
Kusimpan layang-layang
itu kembali, sambil kugantung harap suatu hari kau akan mengajariku bermain
layang-layang.
Kini tahun berlalu,
layang-layang itu tak ada lagi. Engkau tak lagi bicara kepadaku. Kau kecewa
karena aku begitu pandai memasang bulu mata palsu tapi tak bisa memaku tembok.
Aku begitu lincah menari dalam cabaret
tapi tak sanggup menendang bola. Aku bingung menentukan diriku. Ketika aku
menenggok kemasa lalu tak ada satupun catatan tentangmu. KOSONG. Aku tak punya
kenangan bermain denganmu.
Aku dipenuhi tanya,
Ayah, kenapa kau begitu marah, memaki seolah aku sampah, dan berteriak AKU
BANCI.
Tak sekalipun kau mengenalkan aku duniamu,
bagaimana cara laki-laki berkelahi. Aku akan menangis seperti ibu ketika aku
kesal karena aku tak pernah tahu apa yang kau lakukan ketika kesal. Sepanjang
hidupku aku hanya Ibu temanku. Kau dimana Ayah???
Ayah, aku tak lagi
berharap banyak. Tapi di malam yang gelisah aku
bermimpi kau mengajariku bermain layang-layang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar