Selasa, 25 Maret 2014

Kenapa Harus Game On Line ?



Miris hati saya melihat tumpukan sandal jepit di depan pintu warnet yang menyediakan fasilitas game online berbayar. Pagi hari sepulang mengantar sekolah. Siang, sore bahkan malam hari tak pernah surut pengunjung dilihat dari tumpukan sandal dan motor yang terparkir. Kadangkala beberapa anak bercelana pendek warna merah dengan atasan kaos pada jam berapapun tampak bergerombol menikmati somay yang mangkal di depan warnet.

Kecanduan akan game on line ini sudah seperti penyakit akut. Anak yang mencandu rela membolos, berbohong bahkan  tak jarang melakukan tindakan kriminal kecil-kecilan  seperti mencuri meskipun baru sebatas mencuri dari dompet ibu sendiri. Bukankah tak menutup kemungkinan kriminal kecil-kecilan ini akan menjadi suatu tindakan kriminal yang serius di kemudian hari ?

Tidak adakah regulasi yang dilanjutkan tindakan nyata dari pemerintah untuk mengatasi hal ini? Buat apa Satpol PP sibuk terus merazia pedagang tak bisakah dijadwalkan untuk merazia juga warnet yang penuh sesak dengan anak-anak sekolah  pada jam sekolah ?

   
Belajar Aturan lalu Lintas
Kalau dipikir sih, akar masalah dari semua ini adalah tidak tersedianya penyaluran energi pada anak-anak ini. Anak pada usia 3 sd 12 tahun sedang aktif-aktif berekplorasi dan berekperimen. Tapi apa daya orang tua sibuk mengais rejeki, rumah tak cukup nyaman untuk ditinggali, tak ada lagi kebun dan pematang sawah untuk berpetualang memperkaya imajinasi. Bahkan untuk sekedar main petak umpet atau kasti, gang sempit dimuka rumah sudah terlalu sibuk dengan lalu lalang orang dan motor. Satu-satunya hiburan adalah TV, bosan nonton TV mau apa lagi ? Sehingga Game On Line adalah “mahluk paling sexi” untuk menyalurkan energy.

Mewarnai dan berkreasi



Tak tersedianya fasilitas penyaluran energi  ini bisa diatasi kalau Pemerintah dan elemen masyarakat bersatu padu. Saya mengambil contoh dari pengalaman saya tinggal sementara di Rotterdam. Pada saat itu krisis ekonomi sedang melanda hampir seluruh dataran Eropa terimbas masalah  financial yang terjadi di Yunani. Tapi pusat rekreasi anak-anak yang kebanyakan dikunjungi anak para imigran yang tersedia di setiap suburb tetap dipertahankan dengan bantuan para volunteer serta pendanaan dari perusahaan-perusahaan sebagai penyandang dana.

Kita juga bisa. Nyatanya program pos yandu berjalan dengan baik hingga sekarang.  Tidakkah pemerintah berpikir setelah anak selesai diimunisasi pada rentang usia tertentu pemerintah juga punya kewajiban untuk tidak saja menjamin kesehatan fisik anak Indonesia. Pemerintah juga punya kewajiban untuk memastikan anak Indonesia tumbuh dengan jiwa yang sehat.

Tempat belajar komunitas ini bisa saja diselenggarakan dihalaman Balai Desa atau dimana saja, tak usah berpikir terlalu rumit untuk menyelenggarakan kursus ini itu, yang ujung-ujungnya menjadi proyek untuk membuka peluang korupsi. Cukup sediakan berbagai peralatan mewarnai dan craft anak-anak bisa berkreasi. Anak bisa bermain sepeda dengan pengarahan dari pendamping sekaligus pengenalan kesadaran berlalu lintas.   Story Telling diselingi muatan positif. Belajar teater, mencintai seni budaya lokal melalui kegiatan menari dan masih banyak lagi. Semua tergantung bagaimana kita mengemas sebuah program agar tak kalah sexi di banding game on line dan pornografi.

Pasti akan timbul pertanyaan dari mana dananya ? Dari yang saya tahu di suburb tempat saya dulu tinggal sebuah lembaga kursus kalau tidak salah Peuter and Co, menjadi penyandang dana bekerjasama dengan pemerintah. Dan para Volunteer adalah para mahasiswa Keguruan  dan Jurusan Psikologi yang menjadi pendamping.

Bukan hal yang tak mungkin terjadi di Indonesia bila semua berpikir sejalan dan bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Andai saja itu terjadi saya yakin warnet yang menyediakan game online akan sepi pengunjung.

1 komentar:

  1. Ah, iya, betul sekali. Saya juga kepikiran, daripada melepas anak di gang sempit dengan resiko ketabrak sepeda motor, tentu lebih "praktis" kalau memberinya gadget sebagai mainan. Dan, itu cikal bakal kecanduannya akan games online.

    Itu baru bayangan sih, Mbak, karena anakku masih bayi. Terima kasih sudah menuliskan ini, semoga bayangan saya tidak benar terjadi.

    BalasHapus