Miris hati saya melihat tumpukan
sandal jepit di depan pintu warnet yang menyediakan fasilitas game online
berbayar. Pagi hari sepulang mengantar sekolah. Siang, sore bahkan malam hari
tak pernah surut pengunjung dilihat dari tumpukan sandal dan motor yang
terparkir. Kadangkala beberapa anak bercelana pendek warna merah dengan atasan
kaos pada jam berapapun tampak bergerombol menikmati somay yang mangkal di
depan warnet.
Kecanduan akan game on line ini
sudah seperti penyakit akut. Anak yang mencandu rela membolos, berbohong bahkan
tak jarang melakukan tindakan kriminal kecil-kecilan
seperti mencuri meskipun baru sebatas
mencuri dari dompet ibu sendiri. Bukankah tak menutup kemungkinan kriminal kecil-kecilan
ini akan menjadi suatu tindakan kriminal yang serius di kemudian hari ?
Tidak adakah regulasi yang
dilanjutkan tindakan nyata dari pemerintah untuk mengatasi hal ini? Buat apa
Satpol PP sibuk terus merazia pedagang tak bisakah dijadwalkan untuk merazia
juga warnet yang penuh sesak dengan anak-anak sekolah pada jam sekolah ?
| Belajar Aturan lalu Lintas |
Kalau dipikir sih, akar masalah
dari semua ini adalah tidak tersedianya penyaluran energi pada anak-anak ini.
Anak pada usia 3 sd 12 tahun sedang aktif-aktif berekplorasi dan berekperimen. Tapi
apa daya orang tua sibuk mengais rejeki, rumah tak cukup nyaman untuk
ditinggali, tak ada lagi kebun dan pematang sawah untuk berpetualang memperkaya
imajinasi. Bahkan untuk sekedar main petak umpet atau kasti, gang sempit dimuka
rumah sudah terlalu sibuk dengan lalu lalang orang dan motor. Satu-satunya
hiburan adalah TV, bosan nonton TV mau apa lagi ? Sehingga Game On Line adalah “mahluk
paling sexi” untuk menyalurkan energy.
| Mewarnai dan berkreasi |
Tak tersedianya fasilitas
penyaluran energi ini bisa diatasi kalau
Pemerintah dan elemen masyarakat bersatu padu. Saya mengambil contoh dari
pengalaman saya tinggal sementara di Rotterdam. Pada saat itu krisis ekonomi
sedang melanda hampir seluruh dataran Eropa terimbas masalah financial yang terjadi di Yunani. Tapi pusat
rekreasi anak-anak yang kebanyakan dikunjungi anak para imigran yang tersedia
di setiap suburb tetap dipertahankan
dengan bantuan para volunteer serta pendanaan dari perusahaan-perusahaan
sebagai penyandang dana.
Kita juga bisa. Nyatanya program
pos yandu berjalan dengan baik hingga sekarang. Tidakkah pemerintah berpikir setelah anak
selesai diimunisasi pada rentang usia tertentu pemerintah juga punya kewajiban
untuk tidak saja menjamin kesehatan fisik anak Indonesia. Pemerintah juga punya
kewajiban untuk memastikan anak Indonesia tumbuh dengan jiwa yang sehat.
Tempat belajar komunitas ini bisa
saja diselenggarakan dihalaman Balai Desa atau dimana saja, tak usah berpikir terlalu rumit
untuk menyelenggarakan kursus ini itu, yang ujung-ujungnya menjadi proyek untuk
membuka peluang korupsi. Cukup sediakan berbagai peralatan mewarnai dan craft anak-anak bisa berkreasi. Anak
bisa bermain sepeda dengan pengarahan dari pendamping sekaligus pengenalan
kesadaran berlalu lintas. Story Telling diselingi muatan positif. Belajar
teater, mencintai seni budaya lokal melalui kegiatan menari dan masih banyak
lagi. Semua tergantung bagaimana kita mengemas sebuah program agar tak kalah
sexi di banding game on line dan pornografi.
Pasti akan timbul pertanyaan dari
mana dananya ? Dari yang saya tahu di suburb tempat saya dulu tinggal sebuah lembaga
kursus kalau tidak salah Peuter and Co, menjadi penyandang dana bekerjasama
dengan pemerintah. Dan para Volunteer
adalah para mahasiswa Keguruan dan
Jurusan Psikologi yang menjadi pendamping.
Bukan hal yang tak mungkin
terjadi di Indonesia bila semua berpikir sejalan dan bukan untuk kepentingan
pribadi atau golongan. Andai saja itu terjadi saya yakin warnet yang menyediakan
game online akan sepi pengunjung.
Ah, iya, betul sekali. Saya juga kepikiran, daripada melepas anak di gang sempit dengan resiko ketabrak sepeda motor, tentu lebih "praktis" kalau memberinya gadget sebagai mainan. Dan, itu cikal bakal kecanduannya akan games online.
BalasHapusItu baru bayangan sih, Mbak, karena anakku masih bayi. Terima kasih sudah menuliskan ini, semoga bayangan saya tidak benar terjadi.