Loli adalah gadis cilik yang berbakat, hobinya
berlatih akting karena dia bercita-cita untuk menjadi artis terkenal saat
dewasa nanti. Orang tua Loli sangat
mendukung hobinya bahkan mengikutkan Loli ke Sanggar Teater Cilik tempatnya
mengasah kemampuan aktingnya. Karena bakatnya yang menonjol beberapa kali om
Boy pelatihnya mengikut sertakan Loli dalam pementasan.
Kemarin di akhir latihan Om Boy memberi tahu Loli bahwa dirinya
terpilih sebagai pemeran utama dalam pementasan yang akan datang, betapa
senangnya Loli. Rasanya tak sabar untuk segera memberi tahu Mama dan Papanya
tentang berita gembira ini.
Sesampai dirumah Loli langsung bercerita panjang
lebar kepada kedua orang tuanya, Mama dan Papa sangat bangga.
“ Selamat ya Loli, tapi jangan lupakan tugasmu yang
utama yaitu…..” belum sempat mama
menyelesaikan kalimatnya, Loli langsung memotong “Rajin sekolah dan belajar!”
sahutnya sambil berlari ke kamarnya untuk mulai latihan lagi. “ Wah semangat
sekali Loli” Kata Papa sambil geleng-geleng kepala.
Belum lima menit Loli berada dikamar tiba-tiba dia
berteriak sangat kencang “ ADUH! Mama
Papa toloooong”. Tanpa membuang
waktu kedua orang tua Loli berlari kekamar, setiba dikamar dilihatnya Loli
sudah terkapar dilantai dengan mata terpejam. Mama langsung menghambur memeluk
tubuh Loli, Papa sibuk meraba pergelangan Loli untuk memeriksa detak nadinya. “
Ya Allah kenapa Loli Pa, cepat siapkan mobil, kita bawa Loli ke rumah sakit”
kata Mama dengan suara bergetar karena menangis dan kebingungan. Loli terbujur
kaku tanpa bergerak matanya terus terpejam.
Tak lama Papa nya kembali ke kamar setelah
menyiapkan mobil, diangkatnya tubuh Loli ke pelukannya, tetapi belum sempat
Papa melangkahkan kaki, tiba-tiba Loli meloncat turun dengan tertawa
terbahak-bahak “ Ha haaaa, berarti
aktingku sudah sangat meyakinkan , tadi Loli Cuma pura-pura Ma…..Pa”. Kedua
orang tuanya saling berpandangan raut muka kaget masih terbayang diwajah
mereka. “ Loli jangan ulangi perbuatanmu, itu sungguh tidak pada tempatnya.
Papa pikir kamu memang benar-benar sakit” kata Papanya tegas. “ Maafkan Loli,
tapi Loli kan cuma mau melatih akting Loli” sesal Loli. “ Pokoknya tidak boleh,
titik!” kata Papanya sambil berlalu, Mama hanya bisa terdiam sambil mengikuti
Papa dari belakang.
Tetapi kejahilan Loli tidak berhenti sampai disitu
rupanya, beberapa hari kemudian pak Peno petugas satpam juga dikejutkan oleh
tingkah Loli yang pura-pura terjatuh dan kakinya patah saat main sepeda dekat
pos Satpam di komplek rumahnya, pak Peno sangat panik dan menelepon orang tua
Loli. Untunglah setelah dijelaskan pak Peno mau mengerti dan memaafkan
perbuatan Loli.
Papa dan Mama sebenarnya sudah sepakat untuk
menghentikan sementara latihan teater Loli sampai Loli mau mengubah sikapnya
tapi Loli terus merengek dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi , akhirnya
Papa dan Mama memberi kesempatan kembali.
Tak lama berselang Loli jatuh sakit, suhu tubuhnya
panas dan kepalanya pusing.Loli terkena radang tenggorokan yang cukup parah, Dokter menyarankan Loli untuk beristirahat di
rumah dan tidak bersekolah serta menghentikan latihan teaternya untuk beberapa
hari. Sebenarnya Loli sangat sedih mengingat pementasan yang kurang sepuluh
hari lagi, tapi om Boy meyakinkannya untuk beristirahat dan rajin minum obat
agar Loli cepat sembuh dan bisa segera berlatih kembali.
Dihari ketiga Loli sudah pulih seperti sediakala,
tetapi karena obatnya belum habis Mama dengan rajin dan telaten memberinya obat
tiga kali sehari. Saat pulang sekolah sehabis
makan Mama kembali memberi obat dari botol-botol yang diberikan dokter
kepadanya. Tiba-tiba Loli menguling-guling di lantai sambil memegangi perut
sebelah kanan, “ Aduh Ma sakiiit, sakiit
sekali “ keluhnya. “ Ayolah Loli jangan kumat akting lagi, Mama bosan dengan
sikap Loli ini” kata Mama dengan sedikit kesal. “ Tidak Ma , Loli benar-benar
sakit” katanya sambil terus bergulingan di lantai, air matanya mulai menetes
rasa sakit sudah tak tertahan lagi. Perut sebelah kanannya terasa sangat
meyakitkan seperti ada sebilah pisau yang menghujam setiap saat.
“ Mama
percaya pada Loli Ma… Loli benar-benar
sakit” pinta Loli suaranya melemah, giginya beradu menahan sakit, matanya
terpejam dan keringat dingin mulai mengucur deras disekujur tubuhnya. Mama masih
terlihat ragu ketika tangannya meraba tubuh Loli yang dingin, “ Apa kamu
benar-benar sakit nak ? “ Tanya Mama lagi, dirasakannya keringat dingin Loli
yang menempel ditelapak tangannya. Digendongnya Loli ketempat tidur dan
disekanya seluruh keringat dengan handuk kering. “Tunggu sebentar ya Loli mama
panggil tante Trisia untuk kerumah. Tante Trisia adalah seorang dokter yang
kebetulan juga bertetangga dengan keluarga Loli.
Tak menunggu terlalu lama tante Trisia datang, Loli
masih saja berguling-guling kesakitan, tempat tidurnya berantakan karena
badannya tak berhenti bergerak. Tante
Trisia segera memeriksa Loli, “ Wah
sepertinya Loli mengalami kejang perut, coba lihat obat apa saja yang barusan
Loli minum?” Mama segera menyerahkan sekumpulan botol obat milik Loli. “Apakah semua ini diminumkan ke Loli hari
ini? “ Tanya Tante Trisia kepada Mama. Mama mengangguk pelan. “ Ini adalah obat
penurun panas, sebaiknya tidak diminumkan lagi kalau suhu tubuh Loli sudah
normal, sepertinya inilah penyebab Loli kesakitan”. Mama meraih obat itu
diperhatikannya label yang luntur terkena lelehan sirup obat,tulisan yang buram
itu sedikit bisa terbaca berbunyi : HENTIKAN BILA SUDAH TIDAK PANAS.
“ Maafkan Mama ya Loli, Mama tidak membaca
petunjuknya” kata Mama sambil mengelus rambut Loli, Loli hanya bisa terdiam
lemah. Tante Trisia memberinya obat dan menyuruhnya untuk banyak minum. Mamapun
mengganti bajunya yang basah oleh keringat, sakitnya mulai mereda.Sesaat Loli
merasa mengantuk karena lelah menangis. Sayup-sayup dia mendengar obrolan Mama
dan Tante Trisia dari ruang makan.
“Hampir saja aku tidak mempercayai Loli, karena dia
selalu berakting. Aku tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang bohong.
Syukurlah Loli bisa cepat kita selamatkan” Kata Mama sambil menghela nafas.
Dalam kantuknya Loli masih sempat berpikir bahwa apa
yang dilakukannya selama ini memang sangat salah, untung Mama masih bisa
percaya pada Loli kalau tidak apa yang akan terjadi pada Loli pasti sangatlah
fatal.Dalam hati Loli berjanji untuk tidak berbohong lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar