Minggu, 23 Maret 2014

Loli Yang Malang



Loli adalah gadis cilik yang berbakat, hobinya berlatih akting karena dia bercita-cita untuk menjadi artis terkenal saat dewasa nanti.  Orang tua Loli sangat mendukung hobinya bahkan mengikutkan Loli ke Sanggar Teater Cilik tempatnya mengasah kemampuan aktingnya. Karena bakatnya yang menonjol beberapa kali om Boy pelatihnya mengikut sertakan Loli dalam pementasan.
Kemarin di akhir latihan  Om Boy memberi tahu Loli bahwa dirinya terpilih sebagai pemeran utama dalam pementasan yang akan datang, betapa senangnya Loli. Rasanya tak sabar untuk segera memberi tahu Mama dan Papanya tentang berita gembira ini.
Sesampai dirumah Loli langsung bercerita panjang lebar kepada kedua orang tuanya, Mama dan Papa sangat bangga.
“ Selamat ya Loli, tapi jangan lupakan tugasmu yang utama yaitu…..”  belum sempat mama menyelesaikan kalimatnya, Loli langsung memotong “Rajin sekolah dan belajar!” sahutnya sambil berlari ke kamarnya untuk mulai latihan lagi. “ Wah semangat sekali Loli” Kata Papa sambil geleng-geleng kepala.
Belum lima menit Loli berada dikamar tiba-tiba dia berteriak sangat kencang “ ADUH! Mama  Papa toloooong”.  Tanpa membuang waktu kedua orang tua Loli berlari kekamar, setiba dikamar dilihatnya Loli sudah terkapar dilantai dengan mata terpejam. Mama langsung menghambur memeluk tubuh Loli, Papa sibuk meraba pergelangan Loli untuk memeriksa detak nadinya. “ Ya Allah kenapa Loli Pa, cepat siapkan mobil, kita bawa Loli ke rumah sakit” kata Mama dengan suara bergetar karena menangis dan kebingungan. Loli terbujur kaku tanpa bergerak matanya terus terpejam.
Tak lama Papa nya kembali ke kamar setelah menyiapkan mobil, diangkatnya tubuh Loli ke pelukannya, tetapi belum sempat Papa melangkahkan kaki, tiba-tiba Loli meloncat turun dengan tertawa terbahak-bahak “  Ha haaaa, berarti aktingku sudah sangat meyakinkan , tadi Loli Cuma pura-pura Ma…..Pa”. Kedua orang tuanya saling berpandangan raut muka kaget masih terbayang diwajah mereka. “ Loli jangan ulangi perbuatanmu, itu sungguh tidak pada tempatnya. Papa pikir kamu memang benar-benar sakit” kata Papanya tegas. “ Maafkan Loli, tapi Loli kan cuma mau melatih akting Loli” sesal Loli. “ Pokoknya tidak boleh, titik!” kata Papanya sambil berlalu, Mama hanya bisa terdiam sambil mengikuti Papa dari belakang.
Tetapi kejahilan Loli tidak berhenti sampai disitu rupanya, beberapa hari kemudian pak Peno petugas satpam juga dikejutkan oleh tingkah Loli yang pura-pura terjatuh dan kakinya patah saat main sepeda dekat pos Satpam di komplek rumahnya, pak Peno sangat panik dan menelepon orang tua Loli. Untunglah setelah dijelaskan pak Peno mau mengerti dan memaafkan perbuatan Loli. 
Papa dan Mama sebenarnya sudah sepakat untuk menghentikan sementara latihan teater Loli sampai Loli mau mengubah sikapnya tapi Loli terus merengek dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi , akhirnya Papa dan Mama memberi kesempatan kembali.
Tak lama berselang Loli jatuh sakit, suhu tubuhnya panas dan kepalanya pusing.Loli terkena radang tenggorokan yang cukup parah,  Dokter menyarankan Loli untuk beristirahat di rumah dan tidak bersekolah serta menghentikan latihan teaternya untuk beberapa hari. Sebenarnya Loli sangat sedih mengingat pementasan yang kurang sepuluh hari lagi, tapi om Boy meyakinkannya untuk beristirahat dan rajin minum obat agar Loli cepat sembuh dan bisa segera berlatih kembali.
Dihari ketiga Loli sudah pulih seperti sediakala, tetapi karena obatnya belum habis Mama dengan rajin dan telaten memberinya obat tiga kali sehari.  Saat pulang sekolah sehabis makan Mama kembali memberi obat dari botol-botol yang diberikan dokter kepadanya. Tiba-tiba Loli menguling-guling di lantai sambil memegangi perut sebelah kanan, “ Aduh  Ma sakiiit, sakiit sekali “ keluhnya. “ Ayolah Loli jangan kumat akting lagi, Mama bosan dengan sikap Loli ini” kata Mama dengan sedikit kesal. “ Tidak Ma , Loli benar-benar sakit” katanya sambil terus bergulingan di lantai, air matanya mulai menetes rasa sakit sudah tak tertahan lagi. Perut sebelah kanannya terasa sangat meyakitkan seperti ada sebilah pisau yang menghujam setiap saat.
 “ Mama percaya pada Loli  Ma… Loli benar-benar sakit” pinta Loli suaranya melemah, giginya beradu menahan sakit, matanya terpejam dan keringat dingin mulai mengucur deras disekujur tubuhnya. Mama masih terlihat ragu ketika tangannya meraba tubuh Loli yang dingin, “ Apa kamu benar-benar sakit nak ? “ Tanya Mama lagi, dirasakannya keringat dingin Loli yang menempel ditelapak tangannya. Digendongnya Loli ketempat tidur dan disekanya seluruh keringat dengan handuk kering. “Tunggu sebentar ya Loli mama panggil tante Trisia untuk kerumah. Tante Trisia adalah seorang dokter yang kebetulan juga bertetangga dengan keluarga Loli.
Tak menunggu terlalu lama tante Trisia datang, Loli masih saja berguling-guling kesakitan, tempat tidurnya berantakan karena badannya tak berhenti bergerak.  Tante Trisia segera  memeriksa Loli, “ Wah sepertinya Loli mengalami kejang perut, coba lihat obat apa saja yang barusan Loli minum?” Mama segera menyerahkan sekumpulan botol obat milik Loli.  “Apakah semua ini diminumkan ke Loli hari ini? “ Tanya Tante Trisia kepada Mama. Mama mengangguk pelan. “ Ini adalah obat penurun panas, sebaiknya tidak diminumkan lagi kalau suhu tubuh Loli sudah normal, sepertinya inilah penyebab Loli kesakitan”. Mama meraih obat itu diperhatikannya label yang luntur terkena lelehan sirup obat,tulisan yang buram itu sedikit bisa terbaca berbunyi : HENTIKAN BILA SUDAH TIDAK PANAS.
“ Maafkan Mama ya Loli, Mama tidak membaca petunjuknya” kata Mama sambil mengelus rambut Loli, Loli hanya bisa terdiam lemah. Tante Trisia memberinya obat dan menyuruhnya untuk banyak minum. Mamapun mengganti bajunya yang basah oleh keringat, sakitnya mulai mereda.Sesaat Loli merasa mengantuk karena lelah menangis. Sayup-sayup dia mendengar obrolan Mama dan Tante Trisia dari ruang makan.
“Hampir saja aku tidak mempercayai Loli, karena dia selalu berakting. Aku tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang bohong. Syukurlah Loli bisa cepat kita selamatkan” Kata Mama sambil menghela nafas.
Dalam kantuknya Loli masih sempat berpikir bahwa apa yang dilakukannya selama ini memang sangat salah, untung Mama masih bisa percaya pada Loli kalau tidak apa yang akan terjadi pada Loli pasti sangatlah fatal.Dalam hati Loli berjanji untuk tidak berbohong lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar