Minggu, 23 Maret 2014

Pelajaran Berharga



Rayhan masih saja kesal karena dirinya harus pindah sekolah ke Bergen, tempat ayahnya ditugaskan. Setiap hari ada saja yang dikeluhkannya. Dari ketidak nyamanan gedung sekolah sampai tingkah laku teman-temannya yang dia anggap kampungan. Maklum sebelumnya Rayhan bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Islam paling elit di  Jakarta, semua ruangan ber AC dan nyaman. Hari ini pun Rayhan kembali malas-malasan untuk berangkat ke sekolah, padahal jam di kamarnya sudah enam kali berdentang menandakan sudah pukul enam pagi.
“ Ayo Ray segera mandi, air panas sudah mama siapkan nih” kata mamanya dari balik pintu kamar.
Rayhan cuma sedikit berganti posisi, dari subuh tadi setelah shallat Rayhan malah tidur-tiduran diatas sajadah sambil membaca ensiklopedia .Tak mendapatkan jawaban, sang mama perlahan membuka pintu.
“Masya Allah, Ray, ayo dong sudah pukul enam, nanti terlambat. Hari jumat kan harus senam pagi” kata mamanya sambil menghampiri Rayhan.
“ Bisa nggak sih ma, hari ini tidak sekolah?” kata Rayhan sambil menutup ensiklopedianya.
Sang mama menghela nafas sambil beristigfar dalam hati, “ Ray, pembahasan mengenai sekolahmu sudah cukup, lama-lama kau akan betah disana, apalagi setelah kau menemukan sahabat yang cocok. Toh mama lihat teman-temanmu cukup baik dan santun”. Dengan kasih sayang mamanya menarik lengan Rayhan dan membimbingnya menuju kamar mandi.
“Ayo dong masak mama harus gendong anak kelas 3 SD ?” gurau mama.
Rayhan tersenyum kecut, perasaannya bercampur aduk pagi ini seperti hari-hari sebelumnya. Sekolah adalah hal yang paling tidak menyenangkan, pikirnya.
*****
Bel tanda masuk sekolah berdering tepat ketika mama menghentikan mobil didepan pintu gerbang sekolah. Rayhan bergegas turun setelah mencium tangan mamanya.
“Assalamualaikum, ayo cepat Ray, kita harus ikut senam pagi” sapa Ridho dari depan pintu kelas saat dirinya melihat Rayhan datang dengan tergesa-gesa.
“Walaikum Salam” jawab Rayhan pelan. Huh sok akrab, batin Rayhan, di letakannya tas dan tempat makan siangnya diloker dan dia pun segera bergabung dalam barisan murid-murid kelas 3 .
Rayhan tampak malas-malasan mengikuti senam pagi itu , dia sengaja memilih berada di pojok paling belakang . Begitu pula ketika kegiatan senam usai, Rayhan berjalan gontai menuju kelasnya kembali tanpa memperdulikan teman-temannya yang asyik bersenda gurau. Pikirannya melayang ke bekas sekolah dan teman-temannya, “ Sedang apa ya mereka?” gumamnya pelan, lehernya terasa mengganjal karena menahan tangis.
*****
Saat makan siang tiba, seperti biasanya anak-anak berkumpul membentuk lingkaran sebelum makan mereka membuka kotak bekal masing masing dan bu Fitria meletakan sebuah piring lebar di tengah lingkaran. “Ayo anak-anak siapa yang mau berbagi hari ini, silahkan meletakkan makanan kalian di sini ya” kata bu Fitria . Teman-teman Rayhan satu per satu meletakan makanan yang dengan ikhlas hendak mereka bagi kepada teman yang lain, Sarah paling dulu meletakkan pisang rebus, diikuti Aisyah yang kali ini membawa kue pukis, sampai pada akhirnya semua telah berbagi kecuali Rayhan. “Silahkan Rayhan apakah akan berbagi hari ini?” Tanya bu Fitria dengan tersenyum ramah.  Rayhan hanya menggeleng lemah “ Tidak bu” katanya pelan.               “ Baiklah kalau begitu, silahkan anak-anak ambil yang kalian suka, tertib ya jangan berebut” Kata bu Fitri memberi perintah kepada semua murid.Setelah mengucapkan doa sebelum makan semua murid makan dengan tertib, Rayhan duduk memojok sambil memakan bekalnya tanpa berkata sepatah katapun wajahnya murung dan tak bergairah. Dari awal masuk sekolah belum sekalipun Rayhan  berbagi dan bertukar makanan dengan teman sekelasnya, baginya bekal teman-temannya sungguh kampungan dan terlihat tidak enak. Tiba-tiba bu Fitria kembali membuyarkan lamunannya “ Oh ya besok kita akan berkunjung ke Pusat Budi Daya Ikan Laut di Hanura berkaitan dengan pelajaran IPA yang sedang kita bahas, kalian harus membawa bekal yang cukup jangan lupa membawa banyak air minum ya, disana tidak ada satupun penjual makanan. Nanti sebelum pulang ibu akan membagikan surat pemberitahuan untuk orang tua kalian” kata bu Fitria lagi. “ Baik bu” Anak-anak hampir serempak menjawab, sekonyong-konyong suasana kelas menjadi ramai dipenuhi olah suara teman-teman Rayhan yang saling bercakap-cakap membicarakan betapa tak sabarnya mereka untuk mengunjungi Hanura, semua tampak gembira dan antusias kecuali Rayhan tentunya.
*****
Sabtu pagi Rayhan sambil sarapan di liriknya mama yang sedang sibuk menyiapkan bekal dan perlengkapan bagi Rayhan. “ Ma, tak perlu sebanyak itu, Rayhan malas bawa yang berat-berat” kata Rayhan sambil menyuapkan sereal ke mulutnya. Mama sejenak menghentikan pekerjaannya” Aduh anak sholeh kalau lagi makan jangan bicara. Ini sengaja Mama siapkan lebih untuk kau bagi dengan teman-temanmu”.
“ Huh enak saja, makanan Rayhan kan enak-enak masak mau ditukar dengan pisang rebus, makanan mereka kampungan Ma !” Rayhan tampak langsung merengut. Mama menggelengkan kepalanya, sedih melihat sikap anaknya yang sombong, dalam hati mama berdoa “ Ya Allah  Yang Maha Pengasih berilah petunjuk dan bukakanlah pintu hati anak ku agar dia bisa menyayangi dan menghargai sesamanya. Amin”. Belum sempat mama menasehati Rayhan  tiba-tiba jam berdentang tujuh kali. “ Astagfirullah sudah jam tujuh ayo pakai sepatumu kita berangkat” Kata mama sambil bergegas mengambil kunci mobil dan berlari kearah garasi. Rayhan tanpa berpikir panjang langsung menyambar tas sekolahnya dan berlari kecil mengikuti Mama menaiki mobil menuju sekolah.
*****
Kunjungan ke Pusat Budi Daya Ikan di Hanura sangat menyenangkan , disana banyak sekali jenis ikan, Kuda laut bahkan Plankton. Rayhan dan teman-teman sangat antusias mendengarkan penjelasan dari Ir. Sutarman yang ramah dan sabar melayani semua pertanyaan anak-anak. Tanpa terasa kegiatan mereka sudah berakhir.Setelah mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan dengan  para petugas, anak-anak diarahkan oleh guru ke aula yang sudah disediakan untuk beristirahat dan makan siang. Saat semua anak-anak mulai mengeluarkan bekal Rayhan tampak kebingungan mengaduk-aduk ranselnya, berulang-ulang dia memeriksa isi tasnya, ternyata tak satupun bekal yang disiapkan oleh mama pagi tadi diketemukannya. Mama pasti lupa memasukan bekal karena terburu-buru dan Rayhan pun tanpa memeriksa langsung menyambar ranselnya karena takut terlambat. Sesaat dia merasa panik, kerongkongannya terasa kering karena menahan haus sejak tadi, perutnya pun mulai keroncongan. Teman-teman yang lain sudah mulai makan dan mereka saling berbagi seperti biasanya. “ Kenapa Rayhan tidak makan?” Sapa bu Fitria. “Bekal saya ketinggalan Bu” jawab Rayhan. Bu Fitria tersenyum lembut “ Jangan khawatir Rayhan” Katanya sambil menebarkan pandangan ke  semua temannya dengan senyum penuh arti, mereka langsung menghentikan kegiatan makan siang. Ridho mengeluarkan sekotak susu cair untuk Rayhan “ Nih untukmu, aku punya dua” katanya sambil tersenyum manis. Sesaat Rayhan merasa malu tapi rasa hausnya sudah tak tertahan kan lagi, diraihnya susu dari Ridho sambil mengucap terimakasih. Tak lama semua teman langsung membagikan berbagai makanan milik mereka untuk Rayhan. Rayhan menahan malu dan hatinya merasa menyesal karena teman-temannya tak menaruh dendam atas sikapnya selama ini. “ Ternyata pisang rebus enak juga” kata Rayhan. “ Kalau begitu besok senin kau tukar dengan burger mu Ray” Kata Sarah disambut tawa seluruh temannya. Rayhan menyantap satu demi satu makanan yang di berikan oleh temannya semua makanan terasa nikmat karena perutnya sangat lapar. Dalam hatinya dia berjanji untuk tidak lagi bersikap sombong. Hari itu Rayhan mendapatkan sebuah pelajaran berharga sekaligus mendapatkan banyak teman kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar