Jumat, 21 Februari 2014

Warisan



Sebelum subuh pagi tadi, aku kaget begitu membuka pintu kamar. Kulihat suamiku sudah lengkap dengan sarung dan baju kokonya berdiri hanya satu meter dari pintu.  Raut wajahnya terlihat letih tapi bahagia.
Sejak kemarin sore memang beliau sibuk memindahkan buku dari kardus-kardus yang nyaris lembab kedalam rak buku yang baru saja dibelinya. Bayangkan saja enam rak buku yang bertebaran di setiap sudut rumah sudah tak sanggup lagi menampung banyaknya buku yang kami miliki, sehingga kadang kami terpaksa menampung buku yang sudah kami baca ke dalam kardus air mineral untuk memberikan ruang bagi buku pendatang baru.
Kami bukanlah keluarga yang kelebihan uang, kami lebih memilih tidak makan di luar alias jajan daripada harus mengorbankan budget membeli buku. Pernah suamiku berkelakar tanpa bermaksud menyinggung para pecinta kuliner, bahwa pecinta buku ketika selesai melahap sebuah buku yang berbobot akan menaikkan satu derajat pemahaman dalam otaknya, sedangkan pecinta kuliner akan naik satu point kolestrolnya.
Kegemaran membaca menurun pada kedua anak kami, tanpa harus dimotivasi mereka akan sibuk mencari bahan bacaan bila bosan bermain. Mungkin anak-anak hanya melakukan apa yang dilihatnya setiap hari sehingga membentuk kebiasaan.
Ketika pagi tadi aku sibuk mempersiapkan sarapan didapur sayup-sayup kudengar percakapan dua pria tercintaku. Bahwa buku yang dikumpulkan oleh kami nanti akan diwariskan kepada kedua anak kami, bahkan kepada cucu dan cicit kami. Buku yang baik dan ditulis untuk menyebarkan kebaikan tak akan pernah out of date. Itulah warisan kami kepada kedua anak kami, setumpuk buku berikut ilmu sebagai bekal hidup karena kami tak memiliki setumpuk uang untuk memastikan masa depan mereka.

Jelang Magrib, 21 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar