Sebelum subuh
pagi tadi, aku kaget begitu membuka pintu kamar. Kulihat suamiku sudah lengkap
dengan sarung dan baju kokonya berdiri hanya satu meter dari pintu. Raut wajahnya terlihat letih tapi bahagia.
Sejak kemarin
sore memang beliau sibuk memindahkan buku dari kardus-kardus yang nyaris lembab
kedalam rak buku yang baru saja dibelinya. Bayangkan saja enam rak buku yang
bertebaran di setiap sudut rumah sudah tak sanggup lagi menampung banyaknya
buku yang kami miliki, sehingga kadang kami terpaksa menampung buku yang sudah
kami baca ke dalam kardus air mineral untuk memberikan ruang bagi buku
pendatang baru.
Kami bukanlah
keluarga yang kelebihan uang, kami lebih memilih tidak makan di luar alias
jajan daripada harus mengorbankan budget membeli buku. Pernah suamiku
berkelakar tanpa bermaksud menyinggung para pecinta kuliner, bahwa pecinta buku
ketika selesai melahap sebuah buku yang berbobot akan menaikkan satu derajat
pemahaman dalam otaknya, sedangkan pecinta kuliner akan naik satu point kolestrolnya.
Kegemaran
membaca menurun pada kedua anak kami, tanpa harus dimotivasi mereka akan sibuk
mencari bahan bacaan bila bosan bermain. Mungkin anak-anak hanya melakukan apa
yang dilihatnya setiap hari sehingga membentuk kebiasaan.
Ketika pagi
tadi aku sibuk mempersiapkan sarapan didapur sayup-sayup kudengar percakapan
dua pria tercintaku. Bahwa buku yang dikumpulkan oleh kami nanti akan
diwariskan kepada kedua anak kami, bahkan kepada cucu dan cicit kami. Buku yang
baik dan ditulis untuk menyebarkan kebaikan tak akan pernah out of date. Itulah warisan kami kepada
kedua anak kami, setumpuk buku berikut ilmu sebagai bekal hidup karena kami tak
memiliki setumpuk uang untuk memastikan masa depan mereka.
Jelang Magrib, 21 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar